Dengar Alam Bernyanyi, Mari Berbenah Menjaga Alam Indonesia

   

Dengar alam bernyanyi (coaction.id)

  akhir-akhir ini saya merasa aneh dengan kota saya sendiri, Banjarmasin. Meski saya tinggal menetap di kota sebelahnya yakni Banjarbaru, namun tiap pekan saya rutin ke Banjarmasin baik untuk menjenguk mertua atau sekedar jalan. Intinya Banjarmasin sudah seperti kota tinggal saya juga yang sejak kecil saya mainnya selalu ke Banjarmasin.

Keanehan itu karena fenomena alam yang berubah. Dimana kota berjuluk kota seribu sungai ini, saat ini setiap air sungai pasang, maka jalan-jalan raya selalu banjir dan tergenang. Tidak terlalu tinggi sih, sekitar 1-2 jengkal tangan, dan banjir itupun akan hilang jika air sungai surut. Kota dengan banyak sungai ini memang dipengaruhi pasang surut, dan pasang surut air sungai ini juga dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Anehnya adalah karena waktu saya kecil air sungai-sungai di Banjarmasin dan sekitarnya itu tidak setinggi ini, bahkan jika pasang sekalipun. Sedalam-dalamnya air sungai tidak pernah sampai ke jalan, airnya pun rasanya tidak semelipah sekarang ini. Dulu air pasang surut masih bisa untuk anak-anak bermain, relatif santai arusnya. Kalau sekarang dengan kedalaman air dan debit air yang melimpah, jangankan untuk anak-anak, saya yang dewasa saja takut terseret air dan hanyut sampai ke laut.


Ilustrasi banjir (pixabay)


    Banjarmasin itu sendiri datarannya berada 0,16 meter dibawah permukaan laut. Di bawah permukaan loh, bukan diatas permukaan laut, sangat rendah bukan? sehingga jika air laut pasang sedikit sudah langsung tergenang dan banjir. Saya dulunya waktu kecil tinggal di salah satu kampung dekat kota banjarmasin, rumah saya pun di tepi sungai, main saya, berenangnya saya, tentu di sungai. Apalagi sungai di Kalimantan selatan ini merupakan sungai aktif untuk sarana transportasi, MCK dan perdagangan, tentu saja semua-semua kegiatan itu dipengaruhi aliran sungai. Yang terjadi saat ini, Sungai masih tetap digunakan dengan fungsi yang sama, sebagai transportasi, mck dan sentra perdagangan. Dia hanya kehilangan sedikit keramahan pada anak, dan ketinggiannya ketika pasang, tidak lazim dan menggangu kehidupan masyarakat.

    Semua orang juga tau kan bahwa Indonesia adalah negara pesisir dengan banyak sekali pulau-pulau kecil yang indah, yang bisa terancam tenggelam jika permukaan laut terus naik, jadi tak sekedar banjarmasin yang kita khawatirkan. Bahkan pulau-pulau kecil di sekitar Kepualauan seribu Jakarta, dan pulau-pulau kecil di sekitar Bangka belitung juga terancam punah jika global warming tidak kita kurangi.

Indonesia memiliki banyak pulau kecil
Yang terancam tenggelam jika air laut terus naik dokumentasi pribadi - Pulau Lengkuas - Belitung

baca juga: 11 pulau favorit untuk honeymoon di Indonesia

Bayangan terburukku saat ini adalah, jika sekarang sudah setinggi ini, bagaimana 10-20 tahun lagi? berapa tinggi air sungai jika pasang. Lalu bayangkan jika air pasang bersamaan dengan hujan dengan intensitas lama dan banyak? banjir besar kan ya. bukan tidak mungkin puluhan tahun lagi banjarmasin akan tenggelam, bukan hanya ketika air pasang, melainkan air surut pun ikut menggenangi jalan. Apa sanggup kita meninggikan dataran Banjarmasin secara serempak? tidak semua orang mampu menaikkan tinggi bangunan rumahnya dan jalan di sekitarnya. Yang bisa kita lakukan saat ini, daripada meninggikan bangunan, akan lebih baik jika kita cegah saja kenaikan air lautnya, subhanallah, gimana caranya mengurangi atau mencegah kenaikan air laut? kan kita tidak punya tongkat Nabi Musa yang bisa membelah dan mengalirkan air laut ke arah lain.

Kenaikan air laut itu salah satunya karena global warming, ini bukan salah warga Banjarmasin semata namun memang dampak dari perilaku manusia di seluruh dunia. makin banyak polusi udara dari asap kendaraan hingga asap pabrik, makin banyak sampah dari sampah makanan hingga sampah tekstil. elektronik, otomotif dan sebagainya, makin banyak hutan ditebang yang beralih fungsi jadi lahan pemukiman, pertambangan, hingga penebangan liar. Ah rasanya komplek sekali. 

Selain berkontribusi semaksimal yang kita bisa untuk kebaikan bumi, misalnya mengurangi sampah, mengurangi polusi, mengurangi pemakaian energi tak terbarukan, aku juga mengajak teman-teman untuk mendengarkan alam bernyanyi. Setiap kali kita menikmati keindahan alam Indonesia, ketika menikmati langit biru diatas sungai, di hutan, di tempat wisata apapun, coba nikmati sambil mendengarkan lantunan suara alam, betapa indah dan syahdunya. Yang bila ia dirusak, maka kita pun akan melihat rintihan alam yang berharap semua kembali seperti dulu. 

Aku sebagai salah satu blogger dari komunitas #EcoBloggerSquad yang peduli pada isu perubahan iklim dan hutan Indonesia, ingin mengajak kalian semua yang membaca artikel ini, yuk ikut sama-sama berkontribusi menjaga alam Indonesia, kita cegah global warming semakin parah. Bahkan kita bisa berkontribusi hanya dengan cara mendengarkan lagu tentang alam, lho. Pernah dengar lagu asik berjudul "Dengar Alam Bernyanyi" yang liriknya syahdu banget dan cakep banget kalau dipasangkan sebagai backsound tiap kali kita menikmati keindahan alam.


Pandanglah indahnya biru yang menjingga.

Simpanlah gawaimu hirup dunia.

Sambutlah mesranya bisik angin yang bernada.

Dengar alam bernyanyi…”

- LALEILMANINO with Chicco Jerikho, Hivi! & Sheila Dara - 


Kalau belum pernah dengar, coba deh langsung nikmati di platform musik favoritmu. Misalnya di joox, spotify, youtube music, atau apapun langganan kalian, pasti ada lagu ini. Jika kalian menyukainya maka ajak pula orang lain di sekitarmu untuk menyukainya juga. Semakin mendalami lirik lagu ini, maka diharapkan semakin sayang pula kalian pada keindahan bumi ini terutama ibu pertiwi kita, Indonesia. Indonesia, alam kita, sudah memberikan kita sebaik-baik kebaikan alam, oksigen yang bersih dan banyak, langit biru yang indah, mencegah berbagai bencana alam. Masa iya kita tidak ingin menjaga alam kita agar semua tetap seimbang dan baik untuk anak cucu kita. Bayangkan hidup kita jika kelak tak ada hutan dan langit biru? dan yang tak kalah penting, royalti dari lagu ini, akan digunakan untuk konservasi dan restorasi hutan adat di Kalimantan, ajaib banget ya dengan mendengarkan lagu ini sebanyak-banyaknya kalian sudah berpartisipasti menjaga hutan kalimantan.

Semakin viral atau nge-trend lagu ini, harapannya tentu saja, semakin banyak pula orang tersadarkan bahwa bumi ini sudah banyak berubah dan kita jadi berusaha berbuat sesuatu untuk mempertahankan bumi Indonesia yang masih terjaga saat ini agar tidak ikutan punah bersama hutan-hutan lainnya dan semakin banyak pula dana yang didapat untuk perbaikan hutan adat di Kalimantan yang jadi paru-paru dunia. Jangan lupa bahwa tugas menjaga hutan Indonesia ada di pundak kita sebagai generasi muda. Sesimpel mengajak orang menyayangi bumi melalui lirik lagu, jangan lupa kalian nikmati. Nih dibawah ini aku kasih videonya, enjoy, like and share sebanyak-banyaknya.


14 comments

  1. Kalo di daerah tempat tinggalku (Sungai Andai), dulu masih ada kebun rambutan, juga padang ilalang plus pohon² yg aku nggak tau namanya. Tapi begitu ppoliasi bertambah otomatis perumahan juga banyak nih, jadi otomati yg hijau² pun berganti nih. Sebaiknya sih ada bikin semacam ruang-ruang publik yg rimbun gitj ditanami tanaman. Jd seenggaknha alih fungsi pun jd berimbanh.

    ReplyDelete
  2. Abis baca cerita postingan ini, aku langsung buka youtube dong, kepo sm lagu dengar alam bernyanyi.. ternyataa bner enak lagunya, sopan bgt masuk telinga hihi pas bgt jg jalan sambil liat pemandangan dnger lagu ini

    ReplyDelete
  3. Saya pun merasa begitu di Surabaya. Hujan sering turun padahal sedang waktunya musim kemarau. Banyak tempat tergenang air hujan padahal dulunya tidak demikian. Memang seharusnya kita mulai menjaga alam agar lebih seimbang agar tidak terjadi bencana

    ReplyDelete
  4. iya sekarang kalau hujan deras dari pagi langsung takut bakal banjir lagi kayak dulu. sekarang kita sudah tidak bisa lagi bilang banjarmasin bebas banjir karena sudah tidak berlaku lagi

    ReplyDelete
  5. Akhirnya mampir lg di blog mbak, di Bekasi sendiri juga sama mbak, hujan disini gak boleh lama-lama, kalo lama-lama nanti hujan wkwkwk

    ReplyDelete
  6. Kalo bukan kita siapa lagi hehehe

    ReplyDelete
  7. membayangkan mendengarkan lagu ini diantara pepohonan pinus yang rindang dipagi hari dimana udara bersih dan sinar matahari sedang beradu. Pasti menyenangkan banget sih menikmati kombinasi ini

    ReplyDelete
  8. sebenarnya ngeri ya. Soal air laut naik ini. Logikanya ya lama2 daratan bisa kerendam. Kabarnya naik terus per 10 cm sih tiap tahun cmiiw. Intinya harus banyak antisipasi dan lakukan perbaikan agar alam tak rusak ya

    ReplyDelete
  9. Alam sekarang memang sudah sangat jauh berbeda dari yang dulu. Anak gak tahu rasanya main di sungai dengan aman. Takut banjir dan terseret arus

    Ini memang kudu diperbaiki. Aksi kecil akan bantu menjaga bumi termasuk dengar lagu Dengar Alam Bernyanyi

    ReplyDelete
  10. Kontribusi sekecil apapun yang kita lakukan, bisa membuat alam kembali bahagia dan kita pun bisa menikmatinya.
    Semoga dengan langkah kecil yang kita lakukan terus menerus seperti membuang dan mengolah sampah dengan baik, tidak menggunakan bahan sekali pakai dan membawa tempat makan/minum sendiri, alam bisa tersenyum kembali sembari mendengarkan Lagu Alam Bernyanyi yang liriknya indaah sekali.

    ReplyDelete
  11. Iya betul sih, makanya sekarang di daerah kalimantan sekarang suka dengar berita tentang banjir. Salah satu penyebabnya karena eksploitasi hutan secara berlebihan

    ReplyDelete
  12. Ngeri ya Mbak bayangin kalau pulau-pulau pada tenggelam. Padahal sekarang indah-indah banget pulau-pulau itu.
    Alhamdulillah ya yang bingung buat berkontribusi bisa dengan dengerin lagu itu. Aku udah dengerin juga, lagunya asyik dan bagus liriknya 👍

    ReplyDelete
  13. Agak heran sih Banjarmasin bisa banjir. Padahal sepertinya dulu gak ada beritanya. Walaupun lokasinya karena di bawah permukaan laut, tapi kalau perubahan iklim gak terjadi, tentu akan baik-baik saja.

    ReplyDelete
  14. Waawww baru tahu kalau Banjarmasin ternyata lebih rendah dati permukaan laut, wah potensi banjir apalagi rob besar ya mbak huhu.
    Iya nih kalau mau kelak lingkungan kita jd lebih baik buat anak cucu mulai berbenah dengan berbuat sesuatu buat atasi globang warming ya mbak.
    Lagunya baguus.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan saya, Semoga bermanfaat. Ambil baiknya tinggalkan buruknya. Silakan tinggalkan komen yang santun ya tapi jangan tinggalin link hidup dan jangan berkomentar anonim ya. Apalah arti tulisan saya tanpa kehadiran kalian..