Qowiy Dan Bulan Pertama Sekolah

Assalamualaikum... 
Kalau di pikir-pikir saya sepertinya belum pernah secara khusus menulis tentang anak kedua saya. Jadi hari ini mau nulis sejarah dulu, kalau pada tanggal 16 juli 2018 lalu adalah hari pertamanya sekolah. Yeay.. Alhamdulillah. Lalu apa spesialnya, tentu saja bagi saya setiap anak saya adalah spesial.



Anak saya memang cuma 3 orang, dan ga nambah lagi. Padahal masih pengen nambah, tapi karena sesuatu, jadi sama dokter disarankan ga nambah lagi. Dan kami (saya dan suami) sepakat untuk stop saja 3 anak yang kami miliki.  Hahaha.. Kok Curhat terselubung..

Jadi anak kedua saya bernama Qowiy, di rumah di panggil Mas Owie, karena dia punya adik, jadinya Qowiy di panggil mas. Kenapa Mas? Ya karena kami orang jawa, tradisi baik tentu akan selalu kami pelihara bukan. Sayangnya, karena selalu memanggil mas, ada banyak mas-mas yang ikut noleh ketika saya memanggil Mas owie di depan umum. Hahaha

Setiap anak tentu memiliki ceritanya masing-masing. Kalau pada saat anak pertama kami cepat sekali di titipi anak oleh Allah. Maka pada saat Qowiy ini, kami cukup menunggu juga kehamilannya. Hampir setahun dari sejak berhenti pakai KB, baru Allah menitipkan Qowiy di janin saya.

Karena cukup lama menunggu dan benar-bemar di persiapkan (saat anak ke 1 dan ke 3 saya minim persiapan tau-tau hamil) maka bisa di bilang, kedatangan Qowiy ini yang di rencanakan dengan sangat matang.

Saat hamil Qowiy saya khatam membaca alquran, sedangkan ketika hamil yang lain saya tidak selesai hingga khatam karena kondisi kesehatan yang saat itu memang berbeda. Sejak hamil saya sudah memanggilnya abdullah, karena inginnya kami memiliki anak laki-laki. Persiapan nama, gizi cukup, bahkan untuk Aqiqah sudah di siapkan sebelum lahir.

Bukan berarti Qowiy lebih special dari yang lain. Hanya dari segi kesiapan, hanya Qowiy yang kedatangannya benar-benar di siapkan secara matang. Kalau Qori dan Qodhi karena kedatangannya sangat surprise, saya jadi menjalaninya dengan yang terbaik yang ada saat itu saja, tidak dengan persiapan khusus.

Perbedaan lain adalah karena anak pertama saya dulu melewati kelas Paud, Qori sekolah sejak usia 3 tahun. Sedangkan Qowiy langsung ke TK A karena sudah 4 tahun. Dengan berbagai pertimbangan saat itu kami lihat qowiy belum bisa berkomunikasi 2 arah dengan baik, dan untuk bermain masih bisa bersama adiknya Qodhi di rumah. Lalu dari segi biaya juga, saat itu kami baru saja memindahkan Qori sekolah ke Samarinda dengan biaya cukup besar (taulah ya biaya SD Islam terpadu pada umumnya). Akhirnya baru saat ini kami rasa qowiy sudah siap sekolah baik dari segi personalnya dan juga segi materi dari kami.

Seperti anak sekolah pertama kali pada umumnya, kami sudah menyiapkan diri jika ada drama. Suami sengaja telat berangkat kantor untuk melepas anaknya hari pertama sekolah. Kebetulan kali ini yang hari pertama sekolah bukan Qowiy saja, tapi kakaknya.

Baca juga : Qorira dan Bulan Mei yang berkesan

Dihari yang sama Qori juga hari pertama sekolah di sekolah barunya di Banjarbaru, ya kali ini kami memang pindah kota lagi, mengikuti pekerjaan suami. Setelah melepas Qori dengan ustadzah baru dan teman-teman baru, kami merasa ringan hati saja karena kami tau Qori sudah terbukti sangat mudah beradaptasi dimana saja. Jadi kami lebih menyiapkan untuk Qowiy.

Begitu tiba di sekolah, ternyata qowiy senang melihat banyak mainan di area halaman. Qowiy belum mengenal istilah teman saat itu, tapi untuk bermain dia biasa saja mengalah karena di rumah dia punya adik. Saya kenalkan qowiy dengan gurunya, dia salim saja tapi masih cuek banget. Akhirnya tiba saatnya kami meninggalkan. Eh ternyata dia mau ikut, muka memelasnya seperti mengatakan "kenapa kalian mau meninggalkan aku disini" sambil mewek mau nangis.

Akhirnya untuk menghindari drama, qowiy di ajak main di dalam kelas sama gurunya. Kami pun pergi masih dengan rasa cemas. Tik tok tik tok.. Waktu berlalu saya menjemputnya pukul 11.00 dan dia happy. Ternyata dia hanya menangis sesaat ketika mencari saya dan papahnya yang sudah tidak ada, tapi ketika di ajak beraktivitas lain langsung diam dan lupa sedihnya.


Alhamdulillah hari pertama sekolah berjalan damai tanpa drama, good boy, saya selalu menyebutnya begitu bila qowiy berhasil melakukan sesuatu dengan baik. Gak heran kalo akhirnya dia selalu menyebut dirinya dengan sebutan good boy juga. Hahaha..

Sekarang, sudah hampir sebulan dia sekolah, gurunya bilang dia masih cuek dalam belajar, tapi katanya gapapa. Dulu qori juga butuh 2-3 bulan baru menyimak pelajaran dengan baik. Yap.. Ini memang TK yang sama untuk Qori dulu juga. Jadi guru-gurunya paham benar bagaimana karakter qori dan kenal kami sebagai ortu.

Qowiy memang sejak kecil terlihat sebagai anak pembelajar type Audio, dia bisa segala macam hanya dengan mendengar. Jadi setelah sebulan saya dengar qowiy di rumah sudah menyanyi indonesia raya dan beberapa lagu TK lainnya. Padahal kata gurunya di sekolah dia tidak mau ikut menyanyi.

Saya ga terlalu kaget sebenarnya, karena dari dulu Qowiy memang tidak suka di ajari secara khusus seperti Qori yang suka duduk sambil belajar. Saat masih usia 3 tahun, tiba-tiba Qowiy mau jadi imam solat dan saya surprise ternyata dia hafal al fatihah dan berbagai surah pendek seperti al-ikhlas, al-falaq, an-nass, padahal tiap di ajari dia tidak mau meniru. Dan sebagai imam ternyata urutannya benar, dari takbir hingga salam. Jadi kalau sekarang dia tiba-tiba pintar menyanyi padahal di sekolah gak mau menyanyi, ya gak kaget-kaget banget juga.

Semua justru jadi reminder bahwa ternyata Qowiy merekam lengkap semua kegiatan mama papa sehari-hari. Yang bikin kaget justru ketika Qowiy tiba-tiba membaca surah al-baqarah. Padahal mama papa nya mungkin hampir tidak pernah membaca al-baqarah, semua tau kan ya kalo surah al-baqarah itu panjang banget di juz 1. Bahkan dalam solat kami belum pernah memakai surah tersebut. Entah Qowiy mendengar darimana tiba-tiba dia ngoceh sendiri sambil melantunkan surah Al-baqarah, meski gak semuanya, hanya sekitar 8 ayat pertama. Barakallahu fiik anakku.

Tak apa ya nak, Mama Papa senang dengan respon awal Qowiy sekolah. Kita kerjasama ya menggali bakat dan potensi mas qowiy. Jalan kita masih sangat panjang. Terus semangat. Mama dan papa akan terus mendampingi sampai titik peluh terakhir. Apalagi qowiy anak lelaki. Jika anak perempuan kelak akan jadi milik suaminya, sedangkan anak lelaki akan tetap milik ibunya sampai akhir hayatnya. Jika yang perempuan saja mama perhatikan dengan maksimal sampai sedetil-detilnya, tentunya yang anak lelaki juga sama.



Oke, lain kali Mama akan cerita lagi sekelumit masa kecil Qowiy untuk di simpan ya. Love


No comments :

Post a Comment

Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan saya, Semoga bermanfaat. Ambil baiknya tinggalkan buruknya. Silakan tinggalkan komen yang santun ya tapi jangan tinggalin link hidup. Apalah arti tulisan saya tanpa kehadiran kalian..

ruliretno.com | BLOG DESIGN BY Labinastudio