Mendadak Umroh (Part 1), Ketika Panggilan itu Datang

Umroh 23 Januari 2024, unforgetable moment


Masyaallah Tabarakallah...

Allah telah memanggil dan ijinkan aku menunaikan ibadah umroh di akhir Januari 2024. Karena keberangkatannya yang sangat mendadak, bahkan serasa dapat rezeki bertubi-tubi dari Allah, aku coba menuliskannya disini untuk menyimpan kenangan betapa ajaibnya Allah ketika memberikan rezeki. 

        Postingan ini akan panjang karena mengisahkan runut dari awal sekali keinginan umroh itu datang. Semoga bagi siapapun yang membaca kisah ini, bisa sabar membaca hingga akhir dan mengambil yang baik-baiknya saja dari kisah aku. Utamanya aku menulis ini hanya untuk aku kenang sendiri sebelum lupa. Bahwa aku pernah berjuang seperti ini untuk bisa merasa layak dipanggil Allah ke tanah suci.

 

        Oke, Umroh dan Haji, berbicara tentang keduanya, itu adalah impian sebagian besar umat muslim di seluruh dunia. termasuk aku tentunya. Jadi berawal dari yang hanya kagum-kagum dan berucap masyaallah, bercita-cita mau kesana kalo ada uang, sampe nitip-nitip doa tiap ada yang umroh dan haji. Sampai pada fase dimana setiap liat postingan tentang umroh di instagram itu air mata otomatis mengalir. Makin lama, air mata ini makin deras. Jadi tak sekedar berlinang air mata karena pengen, tapi sampai ke level sedih banget, nangisnya sampe mewek banget, dan berakhir di peraduan hamparan sajadah meminta kesana. Moodku benar-benar kacau dan down setiap aku terasa ingin umroh.

     Kalau kata kaka iparku bilang, kalau sudah dalam tahap level menangis karena sangat ingin kesana, artinya Allah sudah memanggilmu, minimal hati sudah terpanggil. Karena banyak yang punya materi tapi tidak terpanggil, aku ingat sekali kata-kata iparku. Sampai beliau memberikan aku doa amalan, yang sebenarnya tidak aku amalkan, karena suka lupaan. Tapi hatiku sudah membuncah kala itu "oh baik, artinya allah sudah memanggilku".

    Bagaimana tidak, karena tiap kali buka-buka fyp kok munculnya postingan tentang umroh. Mungkin dulunya aku pernah cari tau soal umroh jadilah preferensinya tentang umroh melulu di IG. Trus bagaimana bisa aku tiba-tiba menangis kalau melihat postingan tentang umroh. Itu pasti Allah yang menciptakan "rasa" itu, pikirku. Kemudian tibalah aku di fase sangat berhemat segala pengeluaran demi mengisi tabungan umroh. Hampir tiap ada kesempatan aku merengek sama suamiku, ayo donk kerja lebih giat biar dapat banyak rejeki untuk umroh. Sampai menurutku, itu sudah dalam fase tidak wajar. Aku jadi merasa sangat memaksakan diri dan berhemat berlebihan. Apalagi disaat itu, lagi viral di sosmed tentang frugal living. Makin lebay lah aku berhemat. Aku katakan lebay karena aku merasa ini bukan diriku yang biasanya, ini berlebihan.

    Melalui pekerjaan di dunia blogging, aku berhasil mengumpulkan belasan juta. Saat itu aku sudah cukup senang, terkumpul setidaknya hampir setengah biaya umroh yang normalnya biasanya 30 jutaan. Sambil hunting-hunting kalau ada paket hemat umroh di travel milik teman saya di STH yang sering ngeshare umroh paket hemat dan backpacker. 

Saat Aku Kehilangan Materi, Bukan Hilang Asa

        Hehehe.. subjudulnya agak lebay, tapi kehilangan disini sebenarnya bukan berarti kecurian dan kehilangan benar-benar lost. Jadi ceritanya awal 2023, alhamdulillah kuliah S2 aku sudah mencapai tahap akhir. Pada Desember 2022 nya, aku dan suami sudah menemukan dilema ini.

     Dimana pada januari itu, aku akan sidang tesis di surabaya. Otomatis kan perlu biaya bolak balik, akomodasi termasuk uang saku plus keperluan sidang tesis seperti percetakan dll. Oke, disaat yang bersamaan aku juga harus publikasi international hasil tesis aku melalui seminar international, artinya di presentasikan plus di publikasi secara international masuk ke scopus, itu syarat mutlak kelulusan. Nah, sebenarnya ini bukan pertama kali aku ikut seminar international dan presentasi hasil riset. 

     Hanya saja, biasanya seminar internatioal ini hanya di seputaran Indonesia, itupun zoom. Nah, entah kenapa januari 2023 lalu itu tidak ada satu pun seminar international di Indonesia (at least dengan penyelenggara yang kompeten dan masuk ke scopus), dan karena pandemi telah usai maka tak ada lagi seminar International yang online. Semua harus offline hadir di lokasi. Ada beberapa seminar yang Hybrid namun lagi-lagi tidak ada di awal tahun.

    Aku dan beberapa teman yang sama-sama sedang tesis, hanya menemukan di Johor bahru, Malaysia sebagai lokasi seminar international terdekat, lokasi lain ada di dubai, turki, dan negara lainnya. Itupun di februari awal, hingga akhirnya kami harus nego admin jurusan agar bisa tetap ikut wisuda di bulan maret sebagai wisuda terdekat. Jika tidak segera publikasi resikonya adalah, wisudaku tertunda dan aku harus bayar SPP lagi untuk semesteran padahal udah gak ada urusan apa-apa lagi di kampus. 

     Lalu hubungannya dengan umroh apa? Karena aku perlu banyak dana bolak balik surabaya, suami juga harus persiapan dana kami sekeluarga akan ke surabaya untuk aku wisuda di bulan maret. Otomatis aku harus memikirkan biaya aku ke Johor bahru. Aku berpikir daripada uang aku gunakan bayar SPP yang besarnya juga Rp12.500.000 mending dananya aku pakai untuk ke Johor bahru. Aku bisa presentasi seminar international di luar negeri, dimana itu adalah pengalaman baru yang pasti banyak dapat ilmu dan relasi baru, wisuda pun tidak tertunda. Plus aku bisa healing setelah selesai sidang dengan jalan-jalan ke negara tetangga. Lalu suamiku tampak menyerah karena overloadnya dana untuk kebutuhan saat itu. Jadilah aku gunakan uang tabungan umrohku, habis semua belasan juta yang aku kumpulkan dari hasil aku ngeblog dan bikin konten, hehehe.

    Dalam pikiranku saat itu, ini sudah kepalang tanggung. Kuliahku harus selesai, sekali ketunda nanti bisa kelamaan. Biaya untuk daftar seminar saja itu kalo di rupiahkan sekitar 4 juta lebih. Belum akomodasi, semua-semua pakai uangku sendiri, dalam pikiranku daripada aku ngutang. Dan kalau aku ngutang maka ini hutang yang tidak darurat karena sebenarnya aku punya tabungan. Allah juga pasti lebih senang aku pakai uangku daripada pinjam sana sini. Aku pun anti pinjam uang selama aku masih punya dan ini tidak darurat. Bagiku darurat itu misalnya sakit, atau yang benar-benar uzur dadakan tak teratasi. 

Presentasi di seminar International di Johor Bahru, Malaysia

      Begitu selesai seminar international, alhamdulillah semua lancar, lalu wisuda yang menghabiskan dana sangat banyak karena aku memboyong ketiga anakku, kedua orang tuaku, plus membawa mobil sendiri dari banjarmasin ke Surabaya. Namun untuk ini semua, suamiku memang telah mempersiapkan dananya jauh-jauh hari. Jadi alhamdulillah di akhir cerita, sekolah S2 ku selesai tanpa harus berhutang ke siapapun.

     Dari kejadian inilah, aku tuh belajar banyak soal ikhlas. Bahwa sekuat apapun kita berusaha untuk umroh, kita gak boleh lupa ada hal-hal lain yang harus didahulukan. Bahwa rezeki itu memang ditangan Allah. Manusia hanya bisa berencana. Jangan sampai, saking pengen menjaga tabungan umroh, jadi hutang sana sini untuk kebutuhan lain. Jangan sampai aku jadi kurang sedekah juga. Kadang aku tiba-tiba merasa, kenapa semakin ku hemat semakin tidak terkumpul uangnya. Akhirnya aku memutuskan untuk lebih tenang, mengalir saja. Berdamai dengan keadaan. Bukan berarti wisudaku lebih utama daripada Umroh. Tapi aku hanya ingin menghindari berhutang, dalam islam kan berhutang tidak disukai kecuali darurat. Aku anggap itu bukan kondisi darurat berhutang karena aku punya tabungan yang cukup. 

      Aku memutuskan untuk tidak lagi membatasi pengeluaran yang dulunya memang sewajarnya aku keluarkan. Menabung seperti biasa dan bersedekah semampunya. Tak banyak pula menuntut suami, yang mungkin justru bukannya membuat beliau ingin umroh malah jadi sebel karena aku menuntut melebihi kemampuannya. Astaghfirullah.. 

     Entah kenapa, ketika aku menggunakan seluruh uangku untuk keperluan seminar International, rasanya lapang sekali. Hanya sebagai manusia biasa yang punya keinginan, pasti adalah terbersit rasa, yaaa.. tabungan umroh habis deh. Tapi segitu aja, gak yang sampe nangis, mewek banget. Padahal saat itu tuh uda di level parah kan pengen umroh. Kok bisa seikhlas itu aku pun enggak ngerti. Qadarullah aku justru berpikir, oh Allah menitipkan uang belasan juta ini rupanya untuk seminar international ini biar aku enggak nyusahin orang terutama suami dan orang tua. Allah Maha pembolak balik hati manusia, aku tidak tau kenapa saat itu aku bisa setenang itu merelakan semua yang hilang. Ah itu hanya materi, ciyeee. Iya kan materi bisa dicari lagi nanti.

Memulai Harapan Dari Awal Lagi

Setelah tabungan habis, apakah aku patah semangat atau putus asa? Tidak. Aku tetap giat berdoa mau umroh tapi kali ini lebih tenang dan berlepas semua urusan kepada Allah. Entah apakah ini yang di namakan tawakal setelah ikhtiar. Karena tabungan mulai lagi dari awal, jadinya malah lebih santai, lebih ikhlas, ya udahlah kun fayakun, kapan Allah memanggil umroh pasti nanti ada aja.

    Tau gak sih, dengan kondisi lebih ikhlas gini, hati malah jadi tenang. Aku memilih untuk tak lagi membuka postingan IG yang berbau umroh. Bukan sebel, tapi mencegah diriku bad mood dan jadi kecewa sama takdir Allah, takut jadi kufur nikmat karena belum bisa mengelola emosi. Jadi menonton postingan IG tentang umroh kupikir malah jadi toxic untukku saat itu. Aku takut jadi tidak bersyukur kebanyakan yang di tuntut kepada Allah, malah jadi enggak bahagia.

      Tapi...aku memilih berjuang lewat jalur langit. Kata Ustadz salah satunya dengan memperbanyak sedekah, sambil sedekah itu sambil doa minta umroh. Aku mengejar waktu-waktu mustajab untuk berdoa, aku perbanyak kegiatan sosialku, perbanyak ikhlasnya tanpa minta balasan atas segala kebaikan yang kita tanamkan dimana pun. Memperbanyak datang ke majelis ilmu taman-taman surga. Juga memperbaiki diri, misalnya ikut kelas mengaji untuk memperbaiki level tajwidku saat mengaji, dll. Doa di setiap sujud tentu juga dilakukan, perbanyak sunnahnya. Tentu saja yang diminta adalah "panggil aku ke tanah sucimu, ya Allah".

    Ingat sekali ada postingan instagram (lagi), kayanya hidupku emang gak jauh dari IG, hehehe. Dari ustadz Adi Hidayat (UAH). Beliau bilang, kalau mau umroh, nabungnya amal soleh. Secuplik kalimat itu saja mampu menggugah hatiku begitu dalam. Semoga Allah limpahkan berkah pada UAH. Karena konsepnya, rezeki itu semakin di sedekahkan akan semakin banyak. Bukan berarti nabung uang itu gak penting, tapi cara paling mudah melipat gandakan uangku yang tak banyak ini, justru dengan amal soleh, kalo ditabung rasanya memang gak banyak. Karena rezekiku yang berupa uang belum terkumpul, aku memilih beramal soleh jalur langit. Mendonasikan tenaga dan pikiran menjadi pilihanku tatkala kita belum bisa banyak berdonasi secara materi, yang penting niatnya karena Allah.

     Dan yang paling ku anjurkan untuk TIDAK DITINGGALKAN adalah solat 2 rakaat sebelum subuh. Ya Allah, tulisan ini sama sekali bukan untuk memamerkan ibadah, ini pure hanya ingin meninggalkan jejak dimana aku pun kelak jika sedang down dan ingin umroh lagi, aku bisa melihat bagaimana upayaku saat itu, memotivasi diri sendiri agak bisa lebih baik lagi ibadahnya dibanding yang ini. Bahwa ternyata, aku pernah punya amalan yang baik, jadi harus bisa mempertahankan ini semua.

    Dua rakaat sebelum subuh, konon katanya lebih utama dari dunia dan seisinya. Demi Allah, sejak rutin melakukan dua rakaat sebelum subuh itu, aku merasa hatiku lebih tenang dalam hal-hal terkait rezeki materi, selalu dicukupkan oleh Allah. Sepertinya aku selalu merasa cukup atas apapun yang aku punya saat itu dan hal ini terjadi hingga saat ini, masyaallah. Bener yang dikatakan para ulama, kalau hati ini benar-benar sudah berserah kepada Allah, hidup itu akan lebih tenang dan damai. 

Saat Panggilan Umroh itu Tiba

      Sampailah kita di bagian akhir cerita ini, saat panggilan itu tiba. Kapan kejutan itu tiba. Awal mulanya seorang sahabatku yang memang kami udah bersahabat lama sejak 2003 (udah 21 taun ya). Aku tuh sejujurnya agak segan menyebutnya sahabat, takutnya bertepuk sebelah tangan, aku anggap sahabat dianya engga hahaha (apasih*) Kalau engga sahabat mana mungkin diajak umroh ya kan. Intinya kami dekat uda lama banget, uda kemana-mana bareng lah. Cuma terpisah jarak aja dia di Jakarta, aku di Banjarbaru, tapi komunikasi kami gak pernah putus. Apalagi dengan banyak kegiatan sosialku, beliau adalah salah satu donaturnya. Bukan donatur tetap tapi selalu ada saat kapan pun aku butuh dana, hahaha. Kalau menceritakan kebaikannya, wah jangan ditanya, mungkin tak habis 2 malam aku bercerita. 

        Suatu hari di akhir 2023 tapi belum di penghujung, mungkin kisaran November. Aku mengabarkan padanya bahwa zakat mal yang dia titipkan sudah kusalurkan ke yatim-yatim yang memang butuh urgent. Jadi amanahnya sudah beres, dan itu biasa kami lakukan sejak dulu tiap ada urusan sosial begini. begitulah cara kami terus mengobrol dan menjaga komunikasi. Setelah 'laporan' itu, sahabatku tetiba mengajakku umroh. Sekitar beberapa kali pernyataan darinya baru kemudian aku yakin

  1. Sahabatku mengajak aku umroh, aku menolaknya dengan halus dengan aku jawab tentu saja aku mau tapi uangnya belum ada.
  2. Sahabatku bilang dia mau bayarin separo, tetap juga aku menolak, karena dalam bayanganku umroh itu pastilah butuh 30 jutaan, kalau separo kan belasan juta, nah tabunganku pun belum ada segitu. Aku menyebutkan bahwa tabunganku cuma ada sekian, intinya mah dikitlah ya, under 5 juta, ga ada seperberapanya buat umroh masih jauh. Karena aku juga baru banget menabung lagi.
  3. Sahabatku menawarkan lagi, bagaimana kalau dia bayarkan dulu semua, lalu aku mencicil kapan pun aku ada rezeki, lagi-lagi aku menolak karena aku tidak mau beribadah yang sakral dengan berhutang. Yang ada malah hatiku engga tenang sepulang umroh, aku sendiri memang tidak ingin punya hutang apapun.
  4. Sahabatku bilang lagi, oke dia akan bayarkan semua, aku cukup bayar ke dia sejumlah tabungan yang aku punya. Wahh, Tentu saja aku mau.
Setelah itu aku masih speechless, tabungan hajiku masih sangat sedikit isinya, tapi kalau untuk Umroh tentu aku rela mengambil dan menutup rekeningnya toh ini sudah datang panggilannya dari Allah. Berikutnya justru ketika aku minta ijin kepada suamiku, suamiku adalah orang pertama yang aku kabari tentunya. Suamiku khawatir itu adalah Hoax, siapa tau hp sahabatku sedang dibajak karena hanya melalui chat wa. Suamiku khawatir aku menyetorkan sejumlah dana tapi bukan kepada sahabatku, takut scamming penipuan. Beliau bilang, kalau untuk Umroh, beliau mengijinkan kok aku pergi safar jauh bersama sahabatku, toh beliau juga kenal. Hanya saja tolong dipastikan lagi.

        Nah, entah kenapa saat itu temanku tidak bisa di telpon. karena memang sedang jam kerja sih, mungkin dia sedang meeting or else, jadi suamiku makin ragu. Tapi hatiku sendiri tuh meyakini itu sahabatku, hatiku sudah membuncah berbunga-bunga, moodku hari itu bahagiaaaa banget. Dari gaya bahasa chatnya aku yakin sih itu sahabatku. Tak lama setelah obrolan kami, eh aku tiba-tiba masuk group wa manasik umroh, dimana namaku sudah masuk dalam daftar peserta kepengurusan Visa, sahabatku pun sudah mengirim flyer umroh yang kami ikuti. Dan travel yang kami gunakan juga aku kenal ownernya, yaitu teman kami berdua saat kuliah dulu, bukan travel yang aku gak kenal dan bukan pula travel baru, intinya group wa ini gak mungkin hoax. 

        Masyaallah, ternyata sahabatku traktir aku Umroh paket luxury yang semua fasilitasnya bintang 5. Yang ibaratnya tinggal ngesot aja ke Masjidil Haram dan Nabawi. Pesawatnya pun bakal naik Qatar Airways, maskapai yang bahkan aku belum bisa bayangkan bagusnya gimana. Bagaimana aku tidak menangis, bagaimana aku engga sujud syukur, ALLAHU AKBAR... ini lebih dari yang aku minta, lebih segalanya. Aku dikasih umroh backpacker aja bahagia, apalagi yang luxury, dengan uangku yang under 5juta ini, Allah sudah panggil aku. Barulah kemudian aku bercerita kepada suamiku. Alhamdulillah Masyaallah Tabarakallah.... suamiku mengucapkan selamat, karena akhirnya yang aku dambakan sepanjang waktu akan terwujud. Allah Maha Tau, Allah yang mencukupkan, Allah Pemberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Labbaik Allahumma Labbaik.


        Apa yang terjadi setelah ini? bagaimana persiapannya? bagaimana bisa Allah mencukupkan segala kebutuhan keberangkatan Umroh yang ternyata gak sedikit, dan keajaiban yang terus menerus datang bertubi-tubi, bagaimana Allah memampukan yang Dia panggil. Aku ceritakan di part 2 nanti ya... soalnya ini sudah terlalu panjang kisahnya.

         Dari tulisan ini, sama sekali bukan berarti tabungan amal solehku banyak lalu Allah memanggil, bukan... Aku masih jauhhh dari kriteria sholihah. Karena kita pun tidak pernah tau alasan Allah memanggil kita kesana itu karena amal kita yang mana. Aku secara murni hanya ingin menyemangati teman-teman yang kondisinya seperti aku, yang mungkin tak punya banyak biaya untuk menabung secara materi, agar jangan menyerah, masih ada amal yang bisa ditabung, dan banyak usaha lain yang nantinya entah jalan yang mana yang membuat kita bisa dipanggil ke Baitullah.


Cerita ini aku tulis untuk diambil sisi positifnya,
untuk aku kenang anugerah dan keajaiban ALLAH yang Maha Memampukan hamba Nya.
Juga kebaikan sahabatku, Wulan. Semoga Allah limpahkan rahmat kebaikan kepadanya. 
Semoga bisa bermanfaat bagi siapapun yang membacanya


3 comments

  1. MasyaAllah, rezeki datangnya dari sahabat sendiri ya Mbak. Tertarik untuk baca cerita perjalanan umrohnya Mbak Ruli selanjutnya, sembari ikut berdoa selama membaca. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masyaallah, Allahumma baariik, makasih mbak uda jadi yg pertama komen. Insyaallah segera ku lanjutin, semoga bisa ambil hal baiknya aja dari kisahku ya

      Delete
  2. Masya Allah Tabarakallah bener2 cerita yang mirip sinetron ya mbaa...selama ini siapa sie yg ngira kita akan berangkat umroh dibayarin sahabat yg notabene gak ada hubungan darah sama sekali dengan kita..memang ya mbaa kalo sudah rejekinya itu gak bisa kita sangka datangnya dari mana..Alhamdulillah

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan saya, Semoga bermanfaat. Ambil baiknya tinggalkan buruknya. Silakan tinggalkan komen yang santun ya tapi jangan tinggalin link hidup dan jangan berkomentar anonim ya. Apalah arti tulisan saya tanpa kehadiran kalian..