Minyak Jelantah Bantu Kurangi Selimut Polusi

Selimut Polusi Bumi

Siapa disini yang suka setor sampah ke bank sampah? aku salah satunya, dulu dalam pikiranku, daripada teronggok di tempat pembuangan sampah akhir lebih baik setor sampah dan minyak jelantah ke bank sampah, bisa jadi cuan meski gak seberapa, sesederhana itu. Ternyata setoran sampah ini berdampak untuk mengurangi polusi, jika sama-sama serempak kita lakukan, maka akan mengatasi global warming, kok bisa se-wow itu ya...ckckck.. sini aku ceritain dulu.

Jadi pekan lalu aku mengikuti zoom bersama teman-teman #EcoBloggerSquad, Komunitas yang fokus pada isu lingkungan dan perubahan iklim, dimana kami sudah bersama hampir 2 tahun dan fokus membahas isu-isu lingkungan dan iklim terbaru. Zoom kali ini bertema “Transisi Energi dan Selimut Polusi”, menarik sekali topik ini karena membahas mengenai kebaruan di dunia riset dan teknologi.

Apa hubungan sampah dengan polusi? oh jelas ada, sampah juga bikin polusi kan, bau, kotor dan tidak enak dipandang. hanya itu yang biasa kita tau, sebatas polusi udara terkait baunya. Padahal sampah juga bikin global warming, gas yang dihasilkan tumpukan sampah, terutama sampah yang sulit terurai. Membuat bumi semakin panas, sampah juga menghasilkan gas beracun gaes, jadi gak sekedar bau dan tidak sedap dipandang saja. itulah mengapa tumpukan sampah menambah tebal selimut polusi yang menutupi permukaan bumi.

Dalam acara zoom tersebut saya bertemu dengan Kak Fariz Panghegar, selaku Manager Riset dari Traction Energy Asia yang membahas dengan detil bagaimana transisi energi sebagai salah satu cara untuk mengurangi selimut polusi yang makin hari makin menebal, dimana di dalamnya membahas juga tentang bank sampah, jadi penasaran, kan?

Gas Rumah Kaca (GRK)

Sudah sering ya mendengar apa itu gas rumah kaca. saya bahkan mendengar istilah rumah kaca ini sejak kecil karena isu perubahan iklim memang sudah ramai dibahas sejak dulu meskipun belum masiv. Dalam bayangan saya dulu ya, waktu kecil saya membayangkan GRK adalah gas yang nantinya bisa bikin rumah kaca, seperti aquarium, betapa indahnya, hahaha..tapi ternyata justru sebaliknya ya. GRK ini ternyata justru bikin manusia mendekati bencana alam.

Komponen-komponen Gas Rumah Kaca (GRK)

Disebutkan di Wikipedia, Gas Rumah Kaca adalah gas yang ada di atmosfer bumi yang menyebabkan efek rumah kaca. Nah apalagi tuh efek rumah kaca?

Efek Rumah Kaca bisa dikatakan sebagai kemampuan atmosfer untuk mempertahankan udara panas yang nyaman. Makanya bumi itu hangat daripada planet-planet lain di alam semesta ini. Rasa hangat ini adalah karena GRK yang menjaga panas tetap tersimpan di atmosfer bumi, tidak lepas ke luar bumi. Namun, dengan catatan tentu jika nilainya kecil, karena pada dasarnya bumi secara alami sudah menghasilkan GRK kok, hanya saja saat ini GRK ditambah dengan hasil pembakaran hutan, tumpukan sampah, polusi asap kendaraan yang berbahan bakar fossil, energi listrik dari bahan bakar fossil dan penambah polusi lainnya. Jika GRK terlalu besar, terus kesimpan semua di atmosfer, itulah yang bisa menyebabkan pemanasan global alias Global warming, dimana semakin banyak GRK maka bumi semakin panas, lalu es-es di kutub mencair jadilah air dipermukaan laut dan sungai saat ini meninggi. 

Itulah mengapa kita jadi terancam tenggelam apabila GRK makin meningkat, tentu saja daerah pesisir pantai yang paling awal merasakan naiknya permukaan laut. Bukankah kita semua tau betapa banyaknya es di kutub, kebayang jika suhu makin panas, selain kita juga gak betah karena cuaca panas juga semua bisa tenggelam. Masa iya kita butuh membuat bahtera Nabi Nuh? tentu tidak kalau sejak saat ini kite berbenah mencegah GRK makin meningkat. Masalah lainnya tentu bukan hanya masalah tenggelam karena laut meninggi, tapi ya as you see, sekarang iklim dan cuaca kacau banget. Panas yang ekstrim dan dingin yang ekstrim, bencana alam dimana-mana. Curah hujan yang tak terkendali sampai tiba-tiba banjir di beberapa negara. Asli dampak global warming itu nyata banget. Dari sini udah nampak ya, efek dari sampah itu bagaimana?

Transisi energi

Berat nih kalau menyebut transisi energi, seolah-olah ini hanyalah obrolan para engineer teknik kimia, pemerhati lingkungan dan para ilmuan pemerhati perubahan iklim. Tidak, saya tidak mau membicarakan hal yang sulit dicerna. Saya hanya sedikit membuka insight agar masyarakat awam seperti kita juga dikit-dikit tau. Jangan kalau banjir cuma bisa nyalahin kepala daerah yang enggak becus, padahal ini karena memang alam yang sedang bergejolak, itu juga akibat perbuatan manusia secara keseluruhan, bukan karena ulah kepala daerah yang enggak bisa mengatasi banjir. Uhuk..uhuk..

Kembali ke masalah transisi energi, yang namanya transisi sudah tau kan kalau itu perpindahan. Pastinya ke arah yang lebih baik, ada dua hal yang sangat difokuskan Indonesia saat ini yaitu transisi energi dari bahan bakar fosil, menjadi sebagian fosil. dan bahan bakar untuk pembangkit listrik menjadi non fosil keseluruhan. Apa sih bahan bakar fosil? nah itu bahan bakar minyak, berasal dari penambangan minyak bumi dimana bahan bakunya dari fosil. Untuk listrik, bahan bakar yang digunakan untuk menggerakkan pembangkit listri, menggunakan batubara, itu juga dari fosil kan.

Untuk apa transisi energi?

Jadi Indonesia memang sedang giat-giatnya bertransisi untuk penggunaan bahan bakar fossil menjadi non fosil atau sebagian fosil. Karena bahan bakar fosil inilah yang digadang sebagai penyumbang terbesar polusi yang menyelimuti bumi. Bisa disimpulkan, transisi energi bertujuan untuk:

  1. Menurunkan angka polusi dengan mengganti bahan bakar fosil ke non fosil yang rendah polusi.
  2. Menurunkan selimut polutan yang menutupi atmosfer bumi agar bisa mengurangi bencana alam akibat lingkungan
  3. Mengurangi emisi dan kerusakan dari sektor kehutanan yang diakibatkan dari produksi bahan bakar fosil
Kalau di runut sih untuk apa transisi energi tentu banyak, apalagi saat ini pemerintah sedang sangat serius mengembangkan riset energi terbarukan. Tapi intinya ya 3 poin yang saya sebutkan di atas.


Transisi Energi Bidang Transportasi


Menarik banget Zoom bersama #EcoBloggerSquad karena masalah energi terbarukan ini sangat erat kaitannya dengan pendidikan akademik saya dibidang teknik kimia. Nah bidang transportasi ini, erat kaitannya dengan riset di bidang teknik kimia karena energinya berasa dari produk-produk bio. Pengganti energi fosil yang disiapkan untuk energi misalnya biogas, biodiesel, bioavtur dan sederet bio-bio lainnya. Dimana saya pun sudah mengenal bio-bio ini sejak saya kuliah sarjana dulu. Kebetulan ketika saya S1 saya fokus ke biogas, sedangkan ketika pasca sarjana saya banyak mempelajari biodiesel. Jadi saya menjadi saksi bagaimana para akademisi dan peneliti sudah fokus pada energi terbarukan sejak belasan bahkan puluhan tahun lalu.

Emisi dari bahan bakar fosil ini digadang sebagai salah satu penyumbang terbesar polusi di muka bumi. Apalagi semakin hari penduduk makin meningkat dan kendaraan pun jumlahnya makin banyak. Maka polusi akibat asap kendaraan bermotor juga makin banyak. Bukan cuma di darat sebenarnya, tapi termasuk juga emisi dari kapal dan pesawat, karena semuanya sama menggunakan bbm dari fosil.


Dari gambar diatas kita bisa melihat, bahwa salah satu solusi transisi energi bidang transportasi adalah mengganti bahan bakarnya. Pantas saja sekarang banyak merk mobil meluncurkan series mobil listrik. Di Eropa sendiri setau saya, sudah hampir semua orang menggunakan mobil listrik, sedangkan di Indonesia masih jarang. Selain karena harga mobil listrik yang lumayan, juga karena tempat untuk chargingnya yang terbatas, sedangkan di Eropa sana hampir semua tempat sudah menyediakan tempat charging mobil.

Bank Sampah Sebagai Salah Satu Solusi Transisi Energi Mudah


        Di bank sampah kita menabung sampah, setiap kilo sampah yang kita setor bisa ditukarkan menjadi uang. Mulai dari sampah plastik, karton, kertas, besi dan kaleng hingga minyak jelantah. Mungkin terkesan seperti nyerobot pekerjaan pemulung, namun kita justru mengambil peran yang mungkin tidak bisa diambil oleh pemulung atau pengepul sampah. Karena sampah yang kita buang melalui petugas kebersihan kadang rusak sebelum sempat diambil pemulung atau pengepul sampah karena rusak diperjalanan, terutama misalnya sampah kertas, atau bahkan tidak sempat ditemukan di tempat pembuangan sampah akhir hingga akhirnya menggunung.


Sampah adalah salah satu sumber energi terbarukan


           Pernah mendengar terjadinya ledakan di gunungan sampah meledak karena tingginya kandungan gas metan dalam sampah? sering juga terjadi longsor akibat tingginya timbunan sampah dan terkena hujan deras. Nah, dengan memilah sejak dari awal membuang hingga menyetor ke bank sampah, kita sudah sangat membantu tugas mengumpulkan sampah agar lebih mudah di olah. Sampah kertas, karton, besi, plastik, tentu saja di daur ulang. Begitu pun sampah minyak jelantah, inilah salah satu sampah bernilai tinggi karena minyak jelantah ini jika di recycle bisa menjadi biodiesel.

Yup, biodiesel adalah bahan pengganti solar, dimana saat ini bahan bakar di Indonesia sudah bisa mengunakan 30% biodiesel sehingga bisa digunakan oleh mobil atau kendaraan darat berbahan solar. Sedangkan untuk kapal nelayan atau kapal laut bahkan bisa menggunakan full biodiesel. Nah, saat ini Indonesia masih membuat biodiesel dengan bahan baku masih 100% CPO dari kelapa sawit. Sementara penggunaan minyak goreng sendiri, jelas donk banyak di gunakan seluruh masyarakat di Indonesia karena tradisi masak dengan menggoreng itu nyaris dilakukan semua orang dari kalangan rumah tangga hingga restoran. Otomatis minyak jelantah yang dihasilkan pun sebenarnya banyak, jadi bila minyak jelantah ini diolah tentu akan menghasilkan banyak biodiesel sehingga tidak tergantung pada minyak kelapa sawit saja.

        Di Jepang, sampah minyak jelantah sisa menggoreng, tidak boleh dibuang sembarangan di alam karena bisa mengganggu saluran pembuangan, jadi minyak jelantahnya wajib di setorkan ke tempat pembuangan minyak jelantah. Di Indonesia belum wajib, tapi kita bisa kompak dengan beramai-ramai mengumpulkan sendiri dan menyetor ke bank sampah. Bisa disimpulkan bahwa dengan sedikit effort untuk rajin ke bank sampah kita sudah berpartisipasi mengurangi selimut polusi bumi. Makanya saya juga enggak capek-capek mengajak teman-teman untuk mau ngumpulin minyak jelantah untuk bisa disetor ke bank sampah. Meski sekarang banyak yang pakai air fryer sepertinya yang pakai minyak goreng masih tetap banyak kan, hehehe.

        Mungkin ada yang penasaran dapat berapa sih cuan kalau menyetorkan minyak jelantah? Menyetorkan minyak jelantah di beberapa daerah memang berbeda-beda kebijakan, ada yang ddihargai 2000-3000 rupiah perliter, ada juga yang menyetorkan 5 liter bisa dapat 1 liter minyak goreng baru, berbeda-beda sesuai penggeraknya dan antusiasme masyarakatnya.

Transisi Energi Bidang Listrik

Jadi sama saja donk ya, memakai mobil menggunakan bahan bakar fosil, memakai mobil listrik juga listriknya dari bahan bakar fosil. Nah, itulah kita juga perlu tau bahwa pemerintah juga saat ini telah mencoba mengalihkan kebutuhan akan pembangkit listrik berbahan fosil ke bahan lain yang berpotensi di Indonesia. Salah satunya dengan panel surya dan membangun PLTB yaitu pembangkit listrik tenaga bayu (angin). Bahkan saat ini banyak masyarakat juga ramai menggunakan panel surya skala kecil di rumah masing-masing. Nah, jadi pemerintah dan masyarakat bila bekerjasama untuk ke depannya kita optimis bisa mengurangi selimut polusi dan bikin bumi jadi lebih baik. Bergerak pelan-pelan tapi pasti


Okey, mungkin disini ada beberapa saran yang bisa kita gunakan selain hanya dengan ke bank sampah. Berikut saya rangkum beberapa poin dari zoom bersama #EcobloggerSquad.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk berpartisipasi mengurangi selimut polusi
  1. Aktif memilah sampah dan menyetor ke bank sampah atau memberikan ke pemulung agar bisa di recycle
  2. Menyebarkan edukasi/mengkampanyekan tentang energi terbarukan dan bahan bakar non fosil ini ke masyarakat agar bisa mensosialisasikan gerakan ini
  3. Mengurangi pemakaian kendaraan pribadi terutama yang berbahan bakar fosil untuk mengurangi GRK
  4. Mengkampanyekan produk-produk dari sumber energi terbarukan
  5. Menghemat penggunaan listrik dan sumber-sumber energi fosil
  6. Ambil bagian dari riset energi terbarukan (akademisi, engineer, ilmuan, dsb)
Nah, semoga tulisan ini bermanfaat dan membuka insight semua yang membaca agar mau berpartisipasi dalam mengurangi selimut polusi bumi.








44 comments

  1. Minyak jelantah lebih ramah lingkungan ternyata, baru tahu. Kebanyakan orang memang akan memilih minyak jelantah karena harganya yang murah, tetapi beberapa orang akan mempertimbangkan kualitasnya bahkan ada yang enggak cocok sama minyak satu ini. Kalau tahu dampak positifnya gini mulai mencoba beralih sih, terima kasih informasinya!

    ReplyDelete
  2. aku termasuk yang suka buang minyak jelantah nih, setelah baca tulisan ini jadi lebih tau ternyata minyak jelantah lebih ramah lingkungan ya

    ReplyDelete
  3. Kalau praktek gaya hidup ramah lingkungan yang biasa dilakukan oleh aku dan keluarga di rumah tuh dimulai dari matiin lampu ruangan yang nggak terpakai. Kalau bisa dengan cahaya dari jendela, lebih baik nggak perlu hidupkan lampu. Untuk sampah juga udah mulai dibedakan antara organik dan non organik. Semoga kebiasaan lainnya juga bisa segera diikuti dan konsisten dilakukan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pun saya, anak2 jg saya ajarkan hemat listrik. Kalau ruang tengah gak dipakai ya gak usah hidupin kipas angin dan lampu. Air jg jangan banyak2 terbuang, biasanya anak2 kan sukanya mainan utamanya sekarang saya jg pakai minyak goreng dikit banget biar gak kebanyakan jelantah yg terbuang

      Delete
  4. tahun kemarin ada proye KKN dari kampus di kotaku untuk mengumpukan jelantah terus diproses untuk dibuat biodiesel. kami di dawis seneng banget sih minyak jelantah ga terbuang percuma dan jadi polusi tapi jadi sumber energ baru. sayangnya proyeknya udah berhenti. sedih

    ReplyDelete
  5. Kalau minyak jelantah belum bisa nih aku kumpulkan dan berikan ke bank sampah. Tapi pelan-pelan memang sudah memilah sampai yang bisa didaur ulang dengan yang tidak. Semoga segera bisa naik tingkat nih jadi makin banyak berpartisipasi mengurangi selimut polusi.

    ReplyDelete
  6. kebetulan RT tempat tinggalku yg sekarang ini sering sounding soal menyetorkan minyak jelantah dari tiap-tiap rumah. Memang harus dari diri kita sih yang aktif dan bergerak untuk bisa kurangin polusi di bumi

    ReplyDelete
  7. Emisi dari bahan bakar fosil ini memang sudah lama digadang sebagai salah satu penyumbang terbesar polusi yaaa...kita harus segera mengambil langkah nyata mengatasinya ya

    ReplyDelete
  8. Aku belum setor nih klo minyak jelantah suka dibawa mbakkuu. Nggak ku buang. Nanti aku cek2 bank sampah skitar sini untuk jelantah. Mdh2an kita bisa jaga bumi ya mba. Jgn sampai tenggelam ya Allah 😭
    Smangat ikut andil, minimalisir sampah.
    Makasih ya mba tulisannya😍

    ReplyDelete
  9. Aku masih belajar banget nih mba. Masih di tahap memilah sampah dari rumah dan disalurkan ke bank sampah. Untuk minyak jelantah belum nih.. semoga bisa memulai cepat nih.

    ReplyDelete
  10. Polusi di kota2 besar emang makin parah dari hari ke hari. Butuh kerjasama dari semua pihak. Mulai dari diri sendiri dan hal2 kecil semisal memilah milah sampah

    ReplyDelete
  11. Di wilayah rumahku tepatnya di RT aku mengembangkan bank sampah, mba. Seminggu sekali dikumpulkan sampahnya untuk ditukarkan

    ReplyDelete
  12. Kalau dulu jelantah dibuang gitu aja, sekarang minyak jelantah bisa bermanfaat ya mbk. Kalo disini biasanya sampah kertas kardus ada yang ambil

    ReplyDelete
  13. Idenya ciamik bangett mba Ruli.
    Edukasi seperti ini harus terus digencarkan.
    Supaya banyak yg terpapar info keren iniii😆

    ReplyDelete
  14. Lah selama ini saya malah suka buang minyak jelantah. Ya meski gak banyak sih
    Tapi kalau dikumpulkan, digabung kan lumayan ya ...
    Sekecil apapun saya juga ingin berpartisipasi dalam program bagus mengurangi permasalahan kerusakan bumi dan lingkungan ini

    ReplyDelete
  15. Aku baru tau jelantah didaur ulang bisa buat berbagai macam. Selama ini sering liat orang tukeran minyak jelantah sama apa gitu lupa kalau di kotaku mak. Buat bahan bakar ternyata bisa ya!

    ReplyDelete
  16. Di tempatku ada pengepul minyak jelantah yang dikelola RW, lumayan sih kalo udah terkumpul sampai 5 botol bisa buat jajan

    ReplyDelete
  17. Sektor energi menjadi penyumbang terbesar gas rumah kaca ya mbak
    Apalagi energi yang banyak digunakan adalah energi fosil yang kurang ramah lingkungan
    Makanya perlu banget transisi energi

    ReplyDelete
  18. selama ini minyak jelantah hanya ku kumpulkan dalam botol, enggak kepikiran menjualnya ke bank sampah. bagus yaa adanya bank sampah mengurangi jumlah sampah rumah tangga di TPA, dalam jangka panjang berefek ke pengurangan polusi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa ku juga nggak kepikiran ke bank sampah soalnya si mba di rumah suka bawa, katanya jelantahnya kayak yg dijual di pasar, masi cukup bening.. info kayak gini harus disebarluaskan ya ^^

      Delete
  19. Eh jadi ingat berbotol-botol minyak jelantah yang saya tampung di botol bekas minyak. Belum juga disetorkan ke yang mengumpulkan minyak jelantahnya nih. Antara emang masih mau dikumpulin dulu atau dasar malas aja untuk berlanjut ke step berikutnya.

    ReplyDelete
  20. Pantesan di sini juga banyak yg mengumpulkan minyak jelantah mbak, ternyata bisa bantu kurangi selimut polusi ya. Melalui bank sampah kita bisa ikut berpartisipasi menjaga bumi

    ReplyDelete
  21. Jadi ingat waktu belajar biologi atau apa ya, kalau minyak bumi dan batu bara berasal dari fosil ratusan tahun dan ternyata bisa habis. Minyak jelantah sebagai salah satu solusi untuk kurangi polusi sangat bermanfaat juga apabila dikumpulkan dalam jumlah banyak

    ReplyDelete
  22. Semenjak suka mengumpulkan minyak jelantah dan bisa dijual kembali, aku makin semangat hihi. Ingat banget dulu, kalo ada minyak jelantah kdng dibuang. Padahal baru tahu manfaat dari minyak jelantah cukup besar

    ReplyDelete
  23. Wah aku baru tahu ni minyak jelantah bisa di manfaatkan kembali, selama ini minyak jelantah ya dibuang gitu aja ya, ternyata manfaatnya juga besar sekali.

    ReplyDelete
  24. Bank sampah ini solusi simple buat para mak emak yg susah mengelola sampah mcm aku jg.. Sampai skrg gak bs mengelola sampah sendiri heu. Kdg rasanya dosa banget.

    ReplyDelete
  25. Bank sampah ini penting lho
    Sayangnya aku sempat terhenti karena lagi di Surabaya. Cari cari bank sampah di Kertosono belum ketemu yang sesuai dengan sampahku

    ReplyDelete
  26. Dulu saya biasa buang sisa minyak jelantah melalui saluran air tapi sejak terjadi kebuntuan, minyak jelantah saya sisihkan di wadah jerigen dan ternyata laku dibeli orang yang konon katanya buat diolah lagi jadi biodesel gitu atau minyak mesin bubut.

    ReplyDelete
  27. Transisi energi mutlak diperlukan ya.
    Supaya planet Bumi makin lestari dan nyaman utk dihuni

    ReplyDelete
  28. Hmm aku selama ini minyak jelantah main buang aja. Ternyata bisa dimanfaatkan lagi dan menjaga bumi dari polusi juga.

    ReplyDelete
  29. Kalau ada bank sampah di sini, atau ada yang menerima minyak jelantah sih, mau banget untuk ikutan mbak. Tapi sepertinya belum ada di tempat tinggalku. Cuman pernah tahu ada praktek mengolah minyak jelantah gitu sih di sini
    Oh ya, kalau soal sampah, suka milah milihin juga sih mbak, supaya memudahkan petugas kebersihan saat angkut barangnya

    ReplyDelete
  30. Iya nih mbak aku belum nemu nih bank sampah di lokasiku, tp dari dulu pengen praktik mengelola minya jelantah ini supaya bisa ngurang2in sampah minyak.
    Meskipun kelihatannya yang aksi ini kecil tapi kalau konsisten juga sangat berdampak pd lingkungan yaa, apalagi jika kita bisa ngajakin dan ngajarin org lain jg.

    ReplyDelete
  31. aku sudah beberapa kali bikin sabun cuci dr minyak jelantah pemakaian pribadi. Trus atas inisiatif pribadi juga berusaha ajak2 ibu2 kompleks utk kumpulin minjelnya dan kasih ke aku biar kubikin sabun. Tapi meski ada opsi ga bayar biaya, kok ya tetap belum ada yg mau kasih jelantahnya ke aku huhuhu

    ReplyDelete
  32. Wah, ada #EcoBloggerSquad yaa... Seru banget pasti. Sebenernya saya juga sudah mulai mengompos, mulai memilah sampah, pernah belajar membuat sabun dari minyak jelantah juga. Tapiii, kalau ngga punya teman seperjuangan tu kadang rasa malas muncul dan ngga ada yang menyemangati. Coba di Solo ada #ExoBloggerSquad juga... 🥺

    ReplyDelete
  33. Hehehe iyaa mbaa,aku juga termasuk yang masih ngumpulin sisa minyak jelantah,walau belum tau mau dikemanain disini,masih kusimpen 2 derigen masih hahaha. Makasih sharingnya mbaa :(

    ReplyDelete
  34. Sejak baca postingan tentang polusi saya jadi rajin masukin jelantah ke botolnya. Polusi masih me.

    ReplyDelete
  35. Minyak jelantahku kubuang ke kebun. Bahaya gak ya? Kalo ke wastafel cuci piring udah tentu dilarang suami dari dulu, bikin mampet. Kalo bank sampah, ga ada yg deket rumahku.

    ReplyDelete
  36. Bener, bank sampah ini banyak bgtt manfaatnya ya, Maak. Semoga semakin tersebar luas bank sampah ini. Karena efek yg didapatkan cukup tinggi.

    ReplyDelete
  37. Wah, bener juga ya kalau kita rajin ke bank sampah kita sudah berpartisipasi mengurangi selimut polusi bumi. Di tempatku belum banyak nih bank sampah atau tempat pengumpulan minyak jelantah gitu..

    ReplyDelete
  38. Pengin juga di lingkungan rumahku tertata soal pembuangan minyak jelantah. Mengotori got deh selama ini. Orang buang sembarangan di saluran cuciannya. Alhasil kan minyak jelantah tertinggal di saluran pembuangan. Jika terorgnisir gitu kan jadinya bermanfaat untuk bumi dan orang-orang yang berada di dalam circle pengelolaan minyak jelantah tersebut.

    ReplyDelete
  39. Dari hal-hal kecil, kita bisa bantu jaga lingkungan dari yang namanya aja uda bikin merinding, selimut polusi.
    Semoga dengan memanfaatkan kembali minyak jelantah, bisa mejadi salah satu solusi memanfaatkan untuk mengurangi limbah berbahaya ke bumi.

    ReplyDelete
  40. aku dulu saat ga tau arti dari efek gas rumah kaca, ya aku pikir rumah yang terbuat dari kaca wkwkwkwk
    dari kecil udah ga asing dengan pemandangan pemanfaatan minyak jelantah, kadang aku mikir kok bisa minyak udah kotor tapi masih dipake. Padahal kan maksudnya baik untuk ngurangi limbah juga

    ReplyDelete
  41. Biarpun kecil tapi sangat berdampak jika semua bisa melakukannya. Sayang banget kalo terbuang percuma apalagi sampe jd limbah buat bumi ya mba.. Heu

    ReplyDelete
  42. Iya, nih, di sini sudah ada penggerak yang menerima minyak jelantah. Saya senang sekali jadinya, kan seperti mendapatkan solusi limbah menggoreng. pernah juga ada yang ajarin bikin sabun dengan minyak jelantah, tapi saya kurang sabar...

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan saya, Semoga bermanfaat. Ambil baiknya tinggalkan buruknya. Silakan tinggalkan komen yang santun ya tapi jangan tinggalin link hidup dan jangan berkomentar anonim ya. Apalah arti tulisan saya tanpa kehadiran kalian..