Tantangan Berat Dalam Berolahraga

tantangan berat dalam berolahraga


        Tantangan berat apa dalam berolahraga yang kamu rasakan sekarang? Sampai-sampai rasanya mau memulai saja kok sulit ya? apalagi dihajar pandemi selama dua tahun, kesehatan kita habis-habisan dibabat oleh perintah 'stay at home'. Namun belakangan, setelah pandemi terjadi justru club-club olahraga baru bermunculan, gerakan-gerakan sehat bareng terlihat eksis, dan ternyata setelah pandemi yang seperti hamoir usai ini pun, kegiatan oalhraga ini tetap berjalan. Misalnya hadirnya club atau komunitas lari, sepeda, futsal, yoga, TRX, dan berbagai kegiatan olahraga lainnya yang dulunya mungkin hanya ada sedikit. 


Melihat eksisnya orang-orang dalam berolahraga, kok rasanya iri ya. Aku jangankan lari 10 KM, sedangkan bangun untuk ke titik car free day saja males banget. Jangankan gowes 100 KM, wong beli sepeda saja bagiku seperti mimpi, mahal!

Apa saja tantangan berat dalam berolahraga

1. Biaya

mau olahraga apapun, sepertinya mengeluarkan biaya. Bahkan lari saja pun, kita perlu sepatu meski tak harus mahal tapi tetap butuh sepatu olahraga kan. Senam workout di rumah, tetap saja perlu biaya untuk streaming youtube atau download video senam. Enggak ada uang beli sepeda, enggak ada cukup uang beli aksesorisnya pula seperti helm dan sepatu sepeda, dsb. juga biaya lain misalnya ikut club senam, tetap saja ada biaya rutin bulanan. Workout di rumah, berat karena tidak punya matras, dan sederet alasan lainnya. Jadi bagi sebagian kalangan, ini adalah tantangan berat dalam berolahraga. 

       Tapi tantangan ini, sebenarnya kalau untuk pemula masih bisa dilawan, justru kalau bisa dengan budget minimal dulu. Nanti kalau sudah rutin dan enjoy, baru deh beli perlengkapan yang bagus, karena siapa tau kita tidak enjoy dan ingin beralih ke olahraga lain kan sayang.

2. waktu

Bagi kalangan sibuk, bukan kantoran saja ya, bahkan level ibu rumah tangga itu seperti kekurangan waktu dalam sehari 24 jam, saking sibuknya sehari rasanya ingin membelah diri seperti amoeba. Keterbatasan waktu inilah yang kemudian membuat olahraga itu kurang penting dibanding urusan lainnnya, sehingga kemudian dengan tambahan alasan lainnya yang saya sebutkan, intinya waktu memang salah satu tantangan berat dalam berolahraga. 

     Padahal kalau dipaksakan banget, dalan sehari ada kok waktu walau hanya 15 menit untuk rutin olahraga. Waktu untuk solat saja bisa dipaksakan, karena itu kewajiban terhadap Allah. Maka untuk olahraga pun, bisa kita paksakan untuk kesehatan kita sendiri.

3. Sendirian

Ini masuk akal sih, karena kalaou bersama-sama levih semangat apalagi kalau sama orang yang tersayang, seperti ada motivasi sehat bareng. Tapi tak melulu bertumpu pada teman, toh kalau sakit kita akan merasakannya sendirian, huhuhu.. Lebih baik tidak sakit, bukan? Sendirian kadang juga seru di temani mp3 favorit, atau jika memilih untuk workout di rumah, atau treadmill, bisa sambil nonton serial tv favorit. Intinya sih, kendala yang satu ini masih bisa diatasi.

4. Malas gerak

Nah, ini adalah point utama tantangan berat dalam berolahraga. Memulainya itu lho yang males banget. Kalau kita uda lari, uda sepeda, uda nge-gym, semua itu akan seru dengan sendirinya. Tapi memulai untuk ganti baju dan berangkat, dari membuka mata sampai berangkat itu awalnya pasti mager. 

     Semua bisa karena biasa, jadi untuk awal memang harus dipaksakan, nanti lama-lama akan terbiasa. Kita cukup membangun motivasi yang kuat supaya punya seribu alasan untuk memulai olahraga.

    Kalau sudah terbiasa, biasanya akan ketagihan karena kalau enggak melakukannya kita justru merasa ada yang kurang, enggak nyaman, badan malah terasa sakit kalau enggak olahraga. Meningkatkan motivasi, terutama melihat fenomena banyak orang sakit di usia muda, harusnya jadi pembakar semangat untuk melawan malasnya gerak dan berbagai keterbatasan lainnya. Olahraga adalah cara termudah mencegah sakit daripada harus mengobati.

     Bisa karena biasa, ada yang unik dari olahraga ini. Selain orang yang terbiasa berolahraga, biasanya para penyelenggara kompetisi olahraga pun, umumnya jadi ketagihan. Rata-rata kan, para penyelenggara olahraga kalau mengadakan kompetisi jarang kalau cuma sekali saja. Biasanya lanjut ke tahun-tahun berikutnya berulang, seperti halnya olympiade dan pekan olahraga. Dari level penyelenggara international, bahkan sampe ke level perusahaan ekspedisi JNE ternyata juga sama, ketagihan menyelenggarakan event olahraga.

        Saya baru baca juga kemarin, bahwa JNE kembali mengadakan pekan olahraga dalam rangka memperingati HUT RI ke-77. Tema yang diusung pun sama dengan tema kebangkitan Indonesia pasca pandemi yaitu "pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat". Harapannya tentu sesuai tema, agar para karyawan JNE yang mengikuti pekan olahraga ini juga bangkit lebih kuat pasca pandemi. Olahraga yang dipertandingkan ada 6 jenis yaitu futsal, panahan, funbike, tenis meja, badminton, dan bola basket.

Futsal pekan olahraga JNE


      Futsal menjadi salah satu cabang olahraga yang paling diminati dan menjadi favorit seluruh karyawan JNE yang jumlahnya mencapai 58.000 di seluruh Indonesia. Turnamen Futsal di internal JNE pun rutin dilakukan sejak tahun 2007 yang diikuti “Ksatria” dan “Srikandi” JNE (julukan bagi seluruh karyawan JNE), hampir masing-masing departemen memiliki tim unggulan. 

        Hasil pertandingan dalam turnamen futsal tersebut, Tim Pickup Marketplace meraih juara 1 setelah menekuk Tim Futsal JKT 48. Luky Bachtiar dari Tim Pickup Marketplace menjadi pemain terbaik pilihan Coach Deny Handoyo.


Favourite player by coach denny handoyo


        Puncak kebahagiaan dari rutinnya kegiatan ini adalah, JNE berhasil meraih juara 1 Asperindo Cup di Palembang tahun 2017 mengalahkan beberapa tim dari perusahaan ekspedisi dan logistik. Pantes saja mengadakan kegiatan olahraga itu bikon ketagihan, mirip dengan pelaju kegiatan olahraganya itu sendiri. Karena membawa kebahagiaan baik bagi peserta maupun penyelenggara. Sesuai dengan jargon JNE "connecting happiness".


“Mewakili keluarga besar JNE, kami merasa bangga, bahwa momen Pekan Olahraga JNE 2022 setelah vakum selama lebih dari 2 tahun, dapat kembali digelar. Momen yang tepat ini untuk kembali memberikan apresiasi kepada seluruh karyawan untuk dapat berprestasi memberikan penampilan terbaiknya di masing-masing cabang olahraga. Selain itu hadirnya Cosmo JNE FC dapat memotivasi karyawan JNE agar terus berprestasi” Eri Palgunadi, VP Marketing JNE.


      Dapt dipahami sekali bahwa harapan JNE adalah, Selain dapat berprestasi di lapangan, Ksatria dan Srikandi JNE pun bisa memperkenalkan nilai-nilai dan budaya positif perusahaan JNE ke masyarakat luas, di mana JNE suka berbagi, memberi dan menyantuni, sehingga tagline “Connecting Happiness” dapat terwujud sehingga dapat memberikan manfaat seluas-luasnya untuk seluruh masyarakat  Indonesia.  JNE ini kegiatannya dalam mewujudnya berbagi memberi dan menyantuni sangat banyak di berbagai bidang, dari penerbitan buku connecting happiness, giveaway pembagian hewan kurban, memberangkatkan karyawan ibadah umroh, dan berbagai kegiatan kemanusiaan lainnya.

         Kembali ke laptop, kita akhirnya bisa menyimpulkan bahwa tantangan berat dalam olahraga sebenarnya ada dalam diri kita sendiri, bukan semata faktor lingkungan, sekali - dua kali kita bisa melawan rasa berat ini, maka tantangan ini bisa terlalui. Yuk olahraga!








10 comments

  1. kalau diriku tantangan berolahraga yang paling banyak dirasakan adalah tak ada waktu dan malas hahahah sungguh kombinasi yang beneran berbahaya ya kak. kudu menyemangati diri

    ReplyDelete
  2. Olahraga memang sepele, tapi ini penting untuk menjaga kesehatan. Yang bikin orang kadang enggan berolahraga biasanya karena malas, dan ini tantangan terberatnya. Kalau saya sih lebih suka olahraga di rumah, kan banyak video tutorial di youtube.

    ReplyDelete
  3. Olahraga itu tantangan terbesarnya melawan mager udah kayak penyakit yang semakin parah apalagi nemu hape sama kasur. Padahal banyak banget manfaat olahraga kalau bisa memanfaatkan. Soal biaya mah bisa olahraga yang gratis, sendiri mah bisa olahraga di rumah, waktu itu juga bisa diatur kalau ada keinginan. Terima kasih informasinya!

    ReplyDelete
  4. Empat itu, saya banget deh Mbak. Hahahaha. Setengahnya sih alesan nomor 4 sih. Kalau yang itu sudah bisa dibuang, 1-3 lebih mudah.

    ReplyDelete
  5. Kalosaya lebih olahraga simple, kayak manfaatin halaman rumah, atau jalan sekitaran kampung, nyempetin, daripada nggak sama sekali

    ReplyDelete
  6. Kalau saya sepertinya malas ini faktor utama. Saya masih belum dapat mengalahkan rasa malas yang menggempur. APalagi pulang kerja rasanya pengen langsung rebahan. Padahal pas udah olahraga badan kembali seger

    ReplyDelete
  7. Salut banget sama JNE yang segera "pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat".
    Aku pun mageran nih, kak Rul.

    Biasanya suami yang hobi kasih semangat buat kita supaya mau sepedaan berempat. Tapi akhir-akhir ini beliau sering keluar kota jadilah.. olahraga yang cuma seimprit itu gak dilakukan lagi.

    Kudu semangat kaya JNE and team nih.

    ReplyDelete
  8. Kalo tantangan berolahraga bagiku yg no.1 adalah melawan rasa malas huhuhu dan yang kedua harus siap efek jarang olahraga yaitu badan pegel². Parah banget aku yaaa...

    ReplyDelete
  9. kalau aku tantangannya ya mager hihi. pengen jalan pagi mager karena nggak ada temannya. tapi kalau senam di kantor sekarang berusaha ngikutin sih biar nggak kaku badan

    ReplyDelete
  10. bener kak, paling mager kalo olahraga sendiri karena jadi ga semangat :(

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan saya, Semoga bermanfaat. Ambil baiknya tinggalkan buruknya. Silakan tinggalkan komen yang santun ya tapi jangan tinggalin link hidup dan jangan berkomentar anonim ya. Apalah arti tulisan saya tanpa kehadiran kalian..