Cang Nyiat Pan di Singkawang dalam Asimilasi budaya Indonesia



Mengenal: Cang Nyiat Pan


Apa itu Cang Nyiat Pan, nama itu terdengar asing di Indonesia. Tapi jika disebut Cap Go Meh, masyarakat bisa langsung tau bahwa itu adalah bagian dari acara tahun baru imlek yang biasa dirayakan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Lalu apa hubungannya dengan kota Singkawang di Kalimantan Barat? Dalam acara Seri Gastronomi Indonesia yang dihelat oleh Aksara Pangan, dikupas tuntas apa itu Cang Nyiat Pan di Singkawang bersama narasumber-narasumber yang sangat berpengalaman dengan event ini. Tak disangka budaya Cap go meh ini sangat menarik bagi kita untuk menambah wawasan tentang budaya Indonesia.


Perkenalkan 3 tokoh hebat yang menjadi narasumber acara ini:

1. Chef Wira Hardiyansyah (@wirahardiyansyah2.0)

2. Bapak Dr. Hasan Karman, SH, MM (@hasankarman_)

3. Chef Meliana Christanty (@melianachristanty)

Dan dipandu oleh host keren dari Aksara pangan yaitu Pepy Nasution (@indonesiaeats)


Sebagai warga negara Indonesia, sejak dulu belajar tentang budaya Indonesia sangatlah menarik. Saking banyaknya budaya, suku, adat-istiadat, dan keberagaman di Indonesia rasanya bangga sekali karena semua bisa menyatu dalam satu kesatuan yaitu warga negara Indonesia. Bagi saya pribadi, tau tentang budaya lain selain suku saya, adalah wawasan baru yang menarik. Semakin kita tau, semakin kita bisa saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

Cang nyiat pan, adalah salah satu event budaya yang benar-benar saya baru tau ternyata itu adalah acara yang sama dengan Cap go meh. Meski untuk acara Cap go meh saya sudah tau sejak lama dan menjadi sangat khas, namun istilah Cang nyiat pan saya tidak tau bahwa itu adalah acara yang sama dengan Cap go meh. Meski begitu, bukan berarti acara perhelatannya sama persis. Cang nyiat pan di Singkawang, Kalimantan barat ini punya khas tersendiri di bandingkan dengan Cap go meh pada umumnya.


Cap Go Meh adalah perayaan malam ke 15 bulan pertama dari tahun lunar Tionghoa.


Di Singkawang, Kalimantan Barat, perayaan ini disebut Cang Nyiat Pan. Oke, jadi ada banyak pertanyaan lanjutan. Kenapa perayaan cap go meh di Singkawang disebut Cang nyiat pan? Apa saja kemeriahan acara Cang nyiat pan? Apa bedanya Cang nyiat pan dengan perayaan Cap go meh di kota-kota lain? Dan terakhir tentu saja, apa sih kuliner khas perayaan Cang nyiat pan ini? Temukan jawabannya melalui narasumber yang akan saya ulas disini. 


Cap Go Meh


Salah satu poin yang paling menarik ketika kita ke Kalimantan barat adalah budaya masyarakat Tionghoa disana dan tentu saja kulinernya. Sangat beragam dan tidak sekental budaya Tionghoa dari daerah lainnya. Karena disana ada banyak sekali kultur peranakan Tionghoa disana. Banyak yang telah bercampur dengan budaya Indonesia terutama kalimantan.


Aksara pangan adalah perusahaan penyiaran dan produksi yang mendokumentasikan makanan indonesia melalui visual dan sastra


Percampuran budaya atau asimilasi budaya ini digali lebih mendalam dan detail oleh aksara pangan dengan mendatangkan narasumber-narasumber yang ahli dibidangnya. Kita bisa follow instagram @aksarapangan dan melihat betapa kayanya budaya Indonesia lalu didokumentasikan melalui foto, caption yang berisi edukasi dan webinar-webinarnya. Dalam seri gastronomi ini, kita sebagai warga negara Indonesia akan makin bangga karena mengetahui betapa beragamnya kita dalam hidup bermasyarakat.


Melalui 3 narasumber kompeten, inilah cerita singkat tentang perayaan Cang Nyiat Pan

1. Asimilasi kuliner Tiongkok menjadi budaya Indonesia, oleh Chef Wira Hardiyansyah (@wirahardiyansyah2.0)

Chef Wira membeberkan sejak kapan masakan Tionghoa ini tiba di Nusantara? Siapa yang membawa lalu bagaimana akhirnya terjadi asimilasi budaya antara Tionghoa dan literatur resmi dari Setiono. G. Benny dalam bukunya "Tionghoa dalam pusaran politik" disebutkan bahwa antara Tiongkok dan Jawadipa (Jawa) sudah terjalin sejak dinasti Han tahun 131 SM. Orang-orang Tionghoa menyebut Nusantara dengan sebutan Huang Tse. 


Chef Wira dalam menelusuri jejak kuliner warga Tionghoa


Dari berbagai bukti otentik sejarah sumber arkeologi tertulis, memang tercatat ada banyak istilah yang merupakan bawaan dari Tiongkok seperti tahu yang sudah ada sejak 131 SM berasal dari bahasa Hokkian yaitu tau-hu. Dari Chef Wira akhirnya juga diketahui bahwa teknik memasak dengan menggoreng juga diadopsi oleh orang-orang Tionghoa, termasuk juga teknis menumis dengan sedikit minyak atau dengan minyak banyak. Tahukah kalian, bahwa kuali dan penggorengan juga dibawa pertama kali oleh orang Tionghoa. Wah.. menarik sekali ilmu baru ini.

Bagaimana bisa orang-orang Tionghoa memasuki Nusantara ini? Bangsa Tionghoa telah melakukan perjalanan untuk berdagang ke Nusantara dengan mengikuti arah angin. Nah Nusantara ini adalah salah satu tempat singgah mereka. Selain ke Jawa, bangsa Tionghoa juga singgah ke Pontianak dan menetap. Mereka memasuki Nusantara tak sekedar menetap tapi juga membawa budaya dan makanan-makanan khas china. Nah, setelah berabad-abad jadilah semua budaya dan kuliner Tiongkok akhirnya berasimilasi jadi budaya Indonesia.

Contoh asimilasi kuliner Tionghoa di Indonesia apa? Chef wira menyebutkan ada bubur gunting (Liuk theu san), Ronde (Tang Yuan), mie, tiaw, dsb. Sampai disini, kita dibuat kagum bagaimana akhirnya makanan-makanan tiongkok ini akhirnya berasimilasi jadi makanan yang ada dimana-mana bahkan nyaris di semua daerah di Indonesia ada. Betapa kayanya kita dalam keberagaman.


2. Cang Nyiat Pan di Singkawang, oleh Bapak Dr. Hasan Karman, SH, MM (@hasankarman_)


Bupati Singkawang 2007-2012 ini adalah seorang budayawan yang sangat mencintai tradisi di Singkawang ini. Dengan runut akhirnya kita paham benar, bahwa adanya berbagai perbedaan penyebutan dalam tradisi Cang nyiat pan dan Cap Go Meh adalah karena perbedaan dialek atau aksen bangsa Tionghoa. Dimana Cang Nyiat Pan adalah sebutan dari dialek Hakka/Khek, sedangkan Cap Go Meh adalah sebutan dari dialek Hokkian dan Teochew, sedangkan di negeri Tiongkok sendiri sebutannya Yuan Xiao Jie oleh dialek Hanyu/Mandarin. Namun pada intinya semua maknanya sama yaitu perayaan malam utama, karena malam 15 (purnama) ini, jatuh pada bulan pertama imlek yang menjadi penutup perayaan tahun baru imlek. 


Bapak Dr. Hasan Karman, SH, MM (@hasankarman_)


Bapak Hasan Karman ini sendiri adalah adalah Singkawang native berdarah Hakka yang kecintaannya pada budaya di tanah kelahirannya tak perlu diragukan lagi. Beliau tau benar secara detil budaya-budaya khas Singkawang. Bahkan hobby beliau sendiri adalah memasak kuliner khas Singkawang. Bapak Hasan ini bahkan pernah mendapatkan rekor MURI dalam festival Cap Go Meh di Singkawang tahun 2008-2012.


Apa saja yang menjadi kegiatan rutin masyarakat Tionghoa saat Yuan Xiao Jie?

  1. Lantern festival sebagai penghormatan kepada ulang tahun dewa Thai-yi (dewa tertinggi di langit dalam ajaran Taoisme). Dulunya hanya digelar tertutup pada dinasti Han, tapi setelah dinasti Han runtuh tak lagi digelar tertutup acara ini terbuka untuk umum
  2. Menikmati bulan purnama sempurna
  3. Menonton tarian naga (Liong) dan Barongsai
  4. Tradisi berkumpul keluarga makan Ronde (Tang Yuan) dimana ini merupakan acara wajib


Khas perayaan Cang Nyiat Pan diatas adalah bagian dari ritual yaitu sembahyang syukuran bagi tridharma yaitu bagi penganut Taoisme, Budhisme dan Confucianisme. 

Dari semua kegiatan ini, Bapak Hasan mengungkapkan bahwa ada yang menjadi Khas Cang Nyiat Pan di Singkawang yang berbeda daei Pontianak dan daerah lainnya. 

Hal ini penting bagi teman-teman yang ingin menyaksikan event budaya ini di Singkawang. Yaitu:

  1. Tatung pada hari ke-12 (H-3) yaitu kelompok yang berkeliling kota dengan tabuhan yang meriah yang dipercaya bisa mengusir roh jahat dan membersihkan kota dari unsur negatif 
    Pawai Tatung
    (foto: Dr.Hasan Karman, SH, MM)

  2. Hari ke 15 tatung melakukan sembahyang di Kelenteng TridharmaBumiraya. Kegiatan ini biasanya yang sangat dinantikan para turis
  3. Lelang Cang Nyiat Pan, yaitu lelang barang-barang antik yang diletakkan di altar raja langit. Biasanya harganya cukup fantastis dari puluhan hingga ratusan juta. Uang lelangnya diserahkan ke panitia untuk membantu kegiatan dan para tatung yang telah berkontribusi pada acara ini.  
    Lelang barang antik Cang Nyiat pan
    (Foto: Dr. Hasan Karman, SH, MM)

  4. Komoditas Culinary Tourism. Uniknya di Singkawang tidak seperti depot makanan biasanya. Ketika kita datang ke sebuah rumah makan, disana akan di pajang berbagai bahan makanan mentah di depannya. Kita tinggal memilih bahan-bahan apa yang kita mau makan, dan akan dimasak sesuai permintaan. Jadinya akan seperti menu masakan rumahan masyarakat Tionghoa, jadi sangat khas dan unik.

Keren dan unik sekali ya. Dari sini saya akhirnya tau bahwa perayaan Cap Go Meh di Pontianak itu sedikit berbeda dengan Cang Nyiat Pan di Singkawang meskipun sedang merayakan moment yang sama. Nah, ternyata bukan cuma nama acara yang berbeda tapi juga penamaan makanan pun banyak berbeda lho di Singkawang dan Pontianak meski mereka berada dalam satu provinsi yang sama. Perbedaan ini juga salah satunya dipengaruhi oleh sub-etnisnya. 


Di Pontianak, mayoritas bangsa Tionghoa dengan sub-etnis Teochew. Sedangkan di Singkawang mayoritas sub-etnis Hakka atau Khek. Dan sebagai tambahan info, sub-etnis Tionghoa itu banyak jadi jika kita mengetahui semua, bisa saja perbedaan sebutan ini bisa lebih beragam lagi. 
Well, bangga rasanya Indonesia punya budayawan seperti Bapak Hasan Karman ini yang tau betul budaya daerah disana secara detil dan secara tekun melestarikannya. Tidak salah memang aksara pangan bisa menghadirkan beliau sebagai salah satu narasumber.


3. Mengenal Kuliner Kalimantan bersama Chef Meliana Christanty (@melianachristanty)


Tidak semua orang yang tinggal di Kalimantan mampu menguasai detil kuliner Kalimantan. Karena selain faktor keseriusan untuk belajar, juga harus memiliki passion di bidang kuliner dan memasak. Tak salah rasanya Aksara pangan dalam seri gastronomi Indonesia menghadirkan chef Meliana. Dimana chef cantik pernah tinggal lama di kalimantan, termasuk di Pontianak dan chef Meliana juga tokoh peranakan. Chef cantik yang satu ini terus mempromosikan makanan-makanan khas Kalimantan Barat di berbagai event yang diikuti.


Kuliner dalam perayaan Cap Go Meh


Chef Meliana yang saat ini menangani beberapa restoran, aplikasi memasak digital dan banyak kegiatan memasak hingga ke taraf Internasional pada kesempatan ini membagikan banyak pengetahuan soal makanan Kalimantan terutama yang termasuk dalam perayaan budaya Cap go meh atau Chang Nyiat Pan. 


Dalam daftar kuliner diatas, banyak sekali jenis makanan yang sebenarnya adalah makanan umum yang biasa dinikmati masyarakat Indonesia, namun Chef Meliana mampu menjelaskan dengan detil bedanya kuliner masyarakat Indonesia secara umum dengan yang biasa di buat oleh ibu-ibu di Pontianak, Kalimantan barat.

Chef Meliana juga berbagi informasi tentang 10 macam bahan masakan Premium yang harus ada dalam perayaan Cap Go Meh:

1. Switlets bird's nest (sarang burung walet)

2. Sea cucumber (Haisom)

3. Fish Maw (Hebiaw)

4. Fresh water fish : Empurau, Jelawat, Bawal.

5. Bamboo shoots (rebung)

6. King prawn (udang galah)

7. Pork (Babi)

8. Duck (bebek)

9. Ayam Kampung

10. Mushrooms (Jamur)


Jenis Hidangan yang tersaji di Acara Cap Go Meh

  1. Chiang Mie
  2. Masakan Ca
  3. Hekeng
  4. Ikan (digoreng dengan kunyit, atau di kukus dengan jahe)
  5. Tek sun
  6. Udang galah asam garam
  7. Babi (di masak menjadi Phak lo, Te ka, Cai kwa, atau sate Babi)
  8. Sup bebek asinan plum
  9. Ayam
  10. Selado
  11. Salad buah

Chef Meliana juga menjelaskan bahwa ada banyak makanan Cap go meh ini yang tidak ramah untuk muslim seperti babi atau makanan yang mengandung alkohol seperti penambahan arak masak. Namun saat ini seiring dengan berjalannya waktu dan banyaknya turis yang datang, menu kuliner Cap go meh juga banyak yang diganti agar lebih ramah kepada siapa saja yang datang, seperti misalnya menu babi diganti oleh daging ayam. Bila menggunakan arak bisa diganti yang lain juga.

Dalam acara yang dihelat Aksara pangan ini, terlihat chef Meliana memang benar-benar menguasai beragam kuliner khas Pontianak.

Bagi siapa saja turis yang berencana kesana saat perayaan Cang Nyiat Pan atau Cap Go Meh ada kalanya kalian harus banyak membaca literatur budaya ini sebelum kesana. Sehingga wawasan bertambah dan tau do and don't sebelum menyaksikan langsung berbagai ritual perayaan Cap go meh. 


Nah, sekian dulu cerita pendek dari saya ketika mengikuti webinar yang diselenggarakan Aksara pangan dalam seri Gastronomi Indonesia. Saya senang sekali Aksara pangan memiliki banyak dokumentasi lengkap tentang Budaya Indonesia. Sampai bertemu lagi di event-event budaya lainnya. Terimakasih sudah membaca. 







7 comments

  1. Seruuuu kalo membahas kearifan lokal dengan cara seperti ini ya Mba
    Tentu saja, aku kerap bertanya2 Apa sih bedanya Cang nyiat pan dengan perayaan Cap go meh di kota-kota lain?
    Terjawab sudah rasa penasaran akuuu lewat tulisan ini.
    Makasiii mba

    ReplyDelete
  2. Aku pernah nonton Barongsai dan asli berisik banget, tapi suka karena ramai. Pas acara Cap Go Meh, pasti beda ya. Penasaran banget bagaimana keseruannya. Semoga lain waktu bisa ikut lihat keseruan Cang Nyiat Pan di Singkawang

    ReplyDelete
  3. Iya saya taunya cuma Cap Go Meh di Kota Bogor masih setiap tahun ada. Seru. Jadi mngkn singkawang lebih seru ya krn komunitas tionghoanya banyak

    ReplyDelete
  4. Oh di China sendiri, dialek dan istilah ini bisa beda namun artinya sama yaa..
    Jadi ingat budaya Indonesia yang beragam. Bahasa Jawa aja bisa macem-macem dialek yaah..

    Akulturasi budaya menambah semarak dan keindahan budaya.

    ReplyDelete
  5. Hmm jadi belajar banyak budaya aku ini
    Bikin nambah wawasan

    Itu Cap Go Meh kalau di sini bikin kenyang tradisinya

    ReplyDelete
  6. Berasa reni aku mba Ruli, soalanya pas kerja di Hongkong selalu menikmati cap gomeh. kangen nuansanya dan angpaonya hahaha

    ReplyDelete
  7. Dan, dari acara ini bener-bener kebuka banget wawasan yang selama ini tidak banyak diketahui orang terutama tentang Cang Nyiat Pan

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan saya, Semoga bermanfaat. Ambil baiknya tinggalkan buruknya. Silakan tinggalkan komen yang santun ya tapi jangan tinggalin link hidup dan jangan berkomentar anonjm ya. Apalah arti tulisan saya tanpa kehadiran kalian..