Mencatat sejarah Corona 2020 yang kualami

Covid 19 (Corona Virus Disease 2019)

Assalamualaikum... 
Tolong jangan langsung menutup laman ini ketika membaca judulnya. Aku tidak akan membahas tentang apa itu Covid 19, terlalu banyak berita yang membahas wabah ini, virus ini. Bukan itu poin utamanya. Aku hanya ingin kelak kita mengingat saat ini sebagai sejarah yang bermanfaat bagi diri kita. Mencatat apa yang terjadi hari ini. 


Ada banyak hal yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup, masa kecil, setiap ulang tahun, kematian, kelahiran, melihat komet, naik haji, mungkin hanya sekali terjadi. Sementara, banyak hal lain yang terjadi berulang. Kegagalan, kesuksesan, pernikahan, wisuda, dan banyak hal lain masih bisa terjadi berulang. Tergantung seberapa mulus Allah memberimu takdir ssmasa hidup. 

Kali ini aku menulis tentang apa yang terjadi di hidupku, sekitarku, ketika Covid 19 datang. Yang mana aku dan seluruh penduduk di dunia,  berharap Covid ini segera pergi dan tidak kembali, cukup sekali hadir di muka bumi. Aamiin. 

Hari ini aku akan mencatat, bahwa ketika Januari 2020 rakyat Indonesia masih sangat santai menyimak berita wabah Corona yang menimpa kota Wuhan di China. Awalnya Indonesia begitu sombong ketika hampir semua negara memiliki kasus Corona sementara di Indonesia tidak ada. Sekejap saja Allah mematahkan kesombongan itu. Bukan sombong, tapi hanya agar rakyat tidak panik. Sayangnya, kesombongan itu terkesan jadi meremehkan dan membuat Indonesia terlambat menangani dan mencegah. Keduluan para pedagang menimbun masker dan APD (alat pelindung diri)  baru kemudian dicari dan saat itu sudah langka. Bahkan APD yang akhirnya di import dari luar negeri pun ternyata buatan Indonesia. Sungguh miris. 

Bukan ini poinnya, tulisan ini bukan untuk memperburuk suasana. Aku langsung akan mencatat sejarah saja. Hari ini, adalah hari ke 10 gerakan stay at home dijalankan di Banjarbaru, Kalsel, kota tempat tinggalku. Sayangnya hanya sekolah yang di liburkan sementara suamiku, papanya anak-anak tetap bekerja meski hanya 3x seminggu. 

Update hari ini (28 maret 2020),  sudah 1000 kasus positif Corona di Indonesia. Anak-anak sudah 10 hari full di rumah. Sesekali kami memutari kota, tanpa turun dari mobil hanya untuk membuat anak-anak tidak bosan di rumah. Semua hampir pada titik bosannya. Sesampai di rumah semua aku semprot alkohol 70% begitu pula mobil dan seisinya. Aku mulai labil ditambah masa PMS yang mengaduk emosi. Orang tuaku yang tidak tahan rindu cucu akhirnya datang ke rumah dan tetap kami lakukan standard prosedur untuk higienitas yaitu menyemprot badan dan semua yang di bawa orang tuaku sebelum masuk rumah. Apakah ini lebay? Jika kalian mengalami ini sendiri, pasti semuanya akan sepakat ini wajar bahkan harus dilakukan. Penyemprotan seluruh tubuh, dan pengecekan suhu tubuh diberlakukan dimana-mana selama wabah ini terjadi. 

Kelak mungkin tulisan ini akan jadi kenangan begitu mencekam (meskipun di sudut lain terasa hangat) lingkungan saat ini.  Semua saling waspada, semua menyarankan di rumah. Siapapun yang tidak di runah siap-siap di hujat karena menggagalkan kerjasama yang dilakukan ribuan jutaan rakyat Indonesia saat ini. 

Untuk orang yang malas gerak, malas jalan,  malas mandi, malas mikir, malas ngapa-ngapain, inilah saatnya keahlianmu berguna untuk negara. Just stay at home. 
Perhari ini juga, Kota Wuhan sebagai sumber asal wabah Corona ini sudah mulai dibuka lagi dari lockdown. Karena jumlah pasien positif sudah menurun drastis dan tidak ada penambahan kasus Corona lagi. Sementara Indonesia, Italia, Eropa lainnya, hingga Australia, masih memasang status gawat darurat. Ingatlah bahwa Maret 2020 ini adalah kondisi langka yang baru pertama kali terjadi di dunia. 

Maret ini pula, Ibu dari presiden RI, Joko Widodo wafat di tengah kesibukan Bapak Jokowi mengatasi Covid 19. Pasca memakamkan sang Ibunda,  sorenya beliau langsung rapat melalui Teleconference untuk mencari solusi bersama negara-negara lainnya. Stay strong Pak Jokowi. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan bapak saat ini. 

Dear anak-anakku,  di hari ke 10 kalian di rumah saja. Terimakasih karena kalian masih kuat menghadapi mamamu yang makin galak ini. Terimakasih karena kalian menurut untuk tinggal di rumah. Demi Allah, hanya ini yang bisa mama lakukan untuk menjaga kalian tetap sehat. Maafkan jika mama galak menyuruh kalian tidur siang, minum madu, makan yang banyak, makan buah sayur, minum susu, dan tidak main di luar rumah. Sungguh mama tau betapa bosannya kalian, karena mainan di rumah sudah khatam kalian mainkan, bahkan sepeda pun masuk rumah. Demi kalian, nak! 

Ya Allah, 
Engkau yang menciptakan penyakit maka Engkau pula yang menciptakan obatnya. Engkau yang mendatangkan kepada kami, maka hanya Engkau yang bisa melindungi kami. Sembuhkanlah yang sakit, lindungilah yang masih sehat. Ijinkan kami menjalankan Ramadhan tanpa Corona, karena Engkaulah sebaik-baik pemberi kedamaian dalam hati kami. 
Aamiin.. 

Saat ini di Banjarmasin memang hanya 1 positif Corona, tentu saja kita berharap tidak bertambah banyak, mencegah lebih baik daripada mengobati.

Banyak hal yang bisa di ambil hikmahnya dari kejadian hari ini:
1. Sehat: Karena virus bisa dilawan oleh tubjh dengan imun yang kuat, masyarakat berbondong menerapkan pola hidup sehat terutama makanan dan olahraga.  Meskipun negatifnya, vitamin c habis dimana-mana. 

2. Bersih: mematikan virus dan kuman, adalah dengan hidup bersih, maka masyarakat jadi rajin mencuci tangan dan memakai antiseptik. Meskipun negatifnya, desinfektan seperti bayclin dan dettol, juga antiseptik habis dimana-mana.

3. Kehangatan keluarga: memutus rantai penyebaran Covid 19 adalah dengan stay at home alias di rumah saja. Jadi akhirnya keluarga yang tadinya sibuk semua jadi dekat, karena hanya bisa di rumah, tanpa wisata atau ke mall. Bonding keluarga jadi kuat lagi.  Meskipun tetap saja ada banyak yang boring di rumah rindu keluar.

4. Belajar agama: untuk para muslim, selama musim Covid 19 banyak beredar nasihat dan cerita pengalaman menghadapi wabah penyakit di jaman Khalifah dan di masa Rasulullah. Ramai juga beredar doa-doa untuk mencegah wabah penyakit yang dulunya mungkin tidak pernah kita baca Padahal dulunya hanya sekedar tau, tapi sekarang bisa menggunakan solusi yang sama. Masyaallah.. 

5. Tidak menyepelekan: di awali dari Italia yang meremehkan virus ini, akhirnya menjadi wabah di satu negara. Lalu Indonesia menyusul hingga menjadi 1000 kasus positif hingga hari ini. Padahal awalnya banyak yang menyepelekan. Dari sini, semua masyarakat mengambil hikmah agar tidak menyepelekan suatu penyakit atau musibah yang sedang di alami orang lain, karena bisa saja itu menimpa kita juga. 

6. Kerjasama: Dengan adanya perintah untuk di rumah saja,  masyarakat Indonesia akhirnya bekerjasama dengan kompak untuk mengikuti anjuran tersebut agar sama-sama bisa memutus rantai penyebarannya dimanapun berada. Akhirnya masyarakat jadi kompak dan saling mengerti. 

7. Penghormatan tenaga medis: Biasanya prajurit TNI di garda depan perlindungan negara. Tapi kali ini tenaga medislah yang di garda depan. Banyak masyarakat akhirnya tau, betapa menyulitkannya memakai APD tapi itu harus. Berapa banyak tenaga medis berguguran bertaruh nyawa. Berapa banyak tenaga medis harus terpapar corona.  Banyak yang wafat. Bahkan pilu sekali membaca curhatan dari anak Guru besar UGM yang wafat. Beliau wafat karena terpapar pasien Corona yang kabur dari karantina padahal sudah jelas positif corona. Penghormatan setinggi-tingginya untuk perjuangan semua petugas medis saat pandemi ini. Juga untuk seterusnya, semoga kita makin menghargai perjuangan mereka 

Oke, sesuai janjiku.  Aku tidak membahas penyakitnya. Aku hanya menceritakan apa yang aku alami saat ini. Lingkungan sekitarku yang mungkin kelak akan dikenang sepanjang sejarah. Jika kalian punya tambahan cerita yang layak dikenang, tulislah dikomen ya. 

5 comments :

  1. Sama mbak, saya juga sudah dua minggu di kostan karena saya sedang merantau. Sudah dua artikel yang kutulis di blog tentang keseharianku selama stay home di sini. memang sih membosankan tapi ini juga adalah salah satu tindakan biar gak terjangkit virus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener juga, nahan diri aja ya kita demi kebaikan bersama

      Delete
  2. Semoga sehat selalu yaa dan mudah-mudahan cepat berakhir juga sitasi covid ini.

    ReplyDelete
  3. Sama juga mbak, saya sampai saat ini, masih wfh. Memang terkadang membosankan. Untuk melawan kebosanan, saya setiap hari membuat daftar kerja wfh dan jam berapa harus selesai. Jadi walaupun dirumah tetap aktif dan disiplin. Menurutku itu salah satu kunci melawan virus ini. Thanks untuk artikel ini.

    ReplyDelete
  4. aku ini sekarang udah hampir 4 minggu WFH, sesungguhnya bosan bgt, kangen ngantor.. tapi saat ini hal inilah yg terbaik untuk memutus rantai penyebaran..

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan saya, Semoga bermanfaat. Ambil baiknya tinggalkan buruknya. Silakan tinggalkan komen yang santun ya tapi jangan tinggalin link hidup dan jangan berkomentar anonjm ya. Apalah arti tulisan saya tanpa kehadiran kalian..