Dini.id, Bantu Atasi Speech Delay Anak dengan Sistem Assessment Online

Speech Delay pada anak

Di 1000 Hari pertama Kehidupan

Assalamualaikum..
Adik saya dulunya baru mulai berbicara di usia 2.5 tahun itupun hanya beberapa patah kata yang tidak clear, sampai-sampai ibu menduga dia bisu awalnya karena dia tidak bisa bicara di usia yang harusnya sudah bisa ngoceh.

Tapi ibu segera menyadari bahwa adik saya bukan bisu, tapi hanya Speech delay. Berbagai upaya dilakukan ibu hingga akhirnya adik saya bisa ngoceh bahkan saat ini dia jadi banyak ngoceh. Ya, karena profesi adik saya saat ini adalah dosen, sehingga dia harus banyak ngoceh tentu saja untuk mengajar setiap hari.


Speech delay atau keterlambatan bicara merupakan bentuk keterlambatan dalam perkembangan atau mekanisme seseorang untuk mengeluarkan suara. Speech delay sering terjadi pada masa awal pertumbuhan dan perkembangan anak-anak yang berhubungan dengan kesiapan otak (dini.id)

Pada tahun 1992 ketika adik saya batita, istilah speech delay tidak dikenal, apalagi yang namanya internet belum ada, buku-buku parenting belum lengkap di tambah lagi kami tinggal di kampung yang bahkan koran pun tak masuk kesini.


Baca juga: hal yang wajib diajarkan pada anak laki-laki

Usaha ibu untuk mengedukasi diri tak berhenti, setiap ke kota ibu tak lupa beli majalah atau tabloid wanita. Dimana akhirnya ibu jadi teredukasi dan yakin kalau adik saya tidak bisu.

Lalu sejak itu ibu getol mengajak adik bicara, merangsangnya bicara, termasuk ngikuti berbagai saran para orang tua termasuk juga saran yang aneh-aneh seperti  dengan mengerik lidah adik dengan emas. Katanya itu yang biasa dilakukan ke burung beo supaya ngoceh. Dikata adik saya burung apa? Tapi ibu tetep melakukan itu, tak peduli apa kata orang namanya juga usaha, semua cara ibu lakukan. Dan kalau ingat-ingat itu, ibu dan adik suka ketawa sendiri, perjuangan orang tua ya.

Kembali ke Speech Delay, masalah yang satu ini memang sangat memerlukan kepekaan sebagai ibu di periode golden age, yaitu di 1000 hari pertama kehidupan (HPK). Kata para pakar tumbuh kembang, jika 1000 HPK-nya berlangsung baik, maka tumbuh kembang anak ke depannya insyaallah akan baik juga. Seorang ibu juga harus mengetahui tanda bahaya (red flag) yang terjadi pada tumbuh kembang anak.

Dilansir dari viva.co.id, Psikiater anak dr.Anggia Hapsari, SpKJ (K) dari dini.id dalam peluncuran website www.dini.id mengatakan:
“Mereka (orang tua) beranggapan bahwa, oh nanti anak muncul bicaranya belakangan, nanti dia geraknya dulu, loncatnya dulu. Ini mah hal biasa kok. Tapi ternyata sebagai dokter, tolak ukur perkembangan bicara dan berbahasa itu adalah sebagai tolak ukur perkembangan kognitif anak yang nantinya akan berpengaruh juga pada tahap-tahap perkembangan selanjutnya,” jelas  dr.Anggia.
Menurut dr. Anggia, hal ini selain dapat membuat anak sulit berkomunikasi, juga berakibat pada sulitnya orang tua mengerti keinginan anak. Bahkan menurut dr. Anggia, akibat yang lebih jauh dari speech delay bisa berdampak serius. 

“Akibat jauhnya mereka sangat mudah untuk memiliki faktor risiko gangguan jiwa, seperti depresi dan anxiety. Karena itu tadi, mereka tidak bisa mengekspresikan apa yang mereka mau. Bagi mereka semua perasaan itu ga nyaman. Ga nyamannya seperti apa, mereka tidak bisa ngomong atau mengekspresikan apakah mereka sedih, marah, atau kecewa, dan ini bisa berawal dari speech delay tadi,” kata dr. Anggia. 

Bagaimana mengenali anak speech delay?
Tahapan bicara anak normalnya bagaimana?

Tahap Perkembangan Si Kecil(Milestones)

  1. Anak usia 0-6 bulan, sudah mulai memberikan respon reseptif seperti melirik jika ada suara, berekspresi seperti tertawa, menangis,  cooing, mengoceh apapun. 
  2. Anak usia 9-12 bulan, cooing berubah menjadi babbling, mengucapkan yang lebih terlihat agak jelas seperti bababababa, dadadada, mamama atau papapapa, dapat mengucapkan  mama dan papa walaupun belum jelas dan mulai dapat merespon dengan ge
  3. Anak Usia 12 bulan, anak dapat mengikuti 1 perintah seperti mengajak, memanggil, menirukan suara, dan berucap setidaknya 1 suku kata.
  4. Anak usia 15 bulan, mampu berucap meningkat menjadi 3 kata.
  5. Anak usia 18 bulan, anak mulai bisa menunjukkan minimal 1 anggota tubuhnya, pengucapan kata meningkat menjadi 6 kata.
  6. Anak usia 2 tahun, anak mulai dapat menunjukkan gambar atau benda. Dapat mengikuti lebih dari 2 perintah, dapat merangkai kata dan dapat menyebutkan gambar yang dia lihat.
  7. Anak Usia 2,5 tahun, anak dapat menunjuk enam anggota tubuhnya, dapat melakukan 2 tindakan, setengah pembicaraannya dapat dimengerti.
  8. Anak usia 3 tahun, anak dapat mengenali 2 kata sifat, menunjukkan 4 gambar, dan mengenal 1 warna dan seluruh pembicaraannya dapat dimengerti.
  9. Pada usia 4 tahun, si Kecil mulai dapat memahami 4 kata, mengenal 4 warna dan seluruh pembicaraannya dapat dimengerti. 
Coba di cocokkan dengan tumbuh kembang si kecil ya, bu. Kira-kira terlambat atau sudah normal. Sebenarnya tumbuh kembang anak itu sudah pasti berbeda. Saya saja punya 3 anak yang berbeda-beda tumbuh kembangnya. Ada yang lebih cepat dari milestones yang tersebut diatas, ada yang lebih lambat. Yang paling utama, seperti saya sebut di atas adalah orang tua segera menyadari tanda bahaya apabila terjadi keterlambatan.


Semua orang tua pasti ingin anaknya terlihat normal dan biasa. Tapi apabila pada akhirnya terjadi yang namanya keterlambatan, maka yang paling awal di tangani adalah mental kita sendiri sebagai orang tua. Jangan menyalahkan diri terlalu lebay, fokus saja pada solusi masalah. Jangan juga membully anak atau menuntut terlalu banyak, bagaimanapun semuanya butuh kesabaran dan telaten dari orang tua terutama ibu. Baru kemudian fokus ke anak untuk penyelesaian.
Baca juga: tips mengajari anak menghafal al-quran ala La Ode Musa
Serius, saya biasanya sebel banget sama komentar emak-emak julid atau netijen yang gak bisa nahan diri membully anak-anak yang agak berbeda tumbuh kembangnya. Kadang mereka bertanya bukan karena peduli tapi hanya sekedar kepo lalu membully. Kadang saya bisa seketika hilang respek. Rasanya ingin saya berucap, anda-anda tidak akan faham bagaimana rasanya jadi orang tua dari anak-anak itu sebelum anda mengalaminya sendiri. Jadi tahanlah komentar anda.


Bagaimana mengatasi Speech Delay? Berikut adalah beberapa cara yang bisa dicoba sebagai langkah awal mengatasinya.
  1. Mengkondisikan anak pada lingkungan yang memahami kondisinya yang mengalami keterlambatan. Jangan sampai anak diletakkan pada lingkungan yang justru membuat anak makin tidak mau bicara
  2. Konsultasi ke ahli tumbuh kembang. Cara ini sudah mulai di fasilitasi oleh berbagai RS dan klinik. Kekurangannya adalah, biasanya antri, butuh effort dan waktu lebih banyak, dan tentunya siap dari segi biaya
  3. Beli buku-buku atau baca website tentang mengatasi speech delay. Kekurangan metode ini adalah tidak leluasa tanya jawab dan mengecek perkembangan anak.
  4. Konsultasi online dimana kita bisa fokus mendapat informasi untuk tumbuh kembang anak dan speech delay, dan tersedia chat online untuk konsul dan tanya jawab.

Berkenalan dengan Dini.id

Dini.id adalah Sistem Assessment Online untuk Deteksi Speech Delay Anak

Stimulasi dini.id ini telah dirancang untuk membantu tumbuh kembang anak mencapai fase optimal dengan cara bermain belajar yang menyenangkan dan mudah tentu saja.

Fasilitas di Dini.id


Dini.id adalah sebuah startup yang dirancang khusus untuk memberi program stimulasi dan intervensi dalam tumbuh kembang anak dengan memadukan antara teknologi masa kini, ilmu psikologi anak, orang tua, dan tim ahli. Dini.id memberikan fasilitas sistem assessment berkala yang didampingi oleh psikiater dan psikolog klinis yang bisa membantu para orang tua mengidentifikasi potensi ataupun keterlambatan dalam tumbuh kembang anak sedini mungkin.

Harapannya tentu saja bisa mengatasi berbagai masalah tumbuh kembang anak, baik yang mengalami keterlambatan ataupun masalah tumbuh kembang lainnya.

Program stimulasi di Dini.id disusun dengan metode khusus dari para profesional. Bermain dan belajar tidak jadi beban karena aktivitas playtime yang dikemas berbentuk aktivitas bermain. Disediakan 2 pilihan sesi, pagi (10:00-13:00) dan sesi siang (14:00-17:00). Dengan pilihan kelas:
  1. Hello Baby Class
  2. Twaddler Playtime Class
  3. Toddler PlayFun Class
  4. PlaySmart Class
  5. Play! Play! Play! Class

Tema aktivitas play time di Dini.id

Untuk para orang tua yang tertarik mengikuti program di Dini.id bisa nonton video ini juga buat referensi ya:


Sebagai penutup, saya hanya bisa berpesan, tetaplah semangat wahai para orang tua. Kita memang bukan orang tua sempurna, begitupun anak kita, tidak ada yang sempurna. Kita hanya bisa terus berusaha dan bersemangat agar anak bisa bertumbuh kembang dengan baik. Saya tau pasti tidak ada satupun orang tua yang dengan sengaja membuat anaknya Speech delay, karena itu fokuslah pada penyelesaian saja. Jangan fokus pada kesalahan dan jangan fokus pada komentar negatif di luar sana. Semangattt..










12 comments :

  1. Alhamdulillah, masalah yang dialami adik teratasi ya, hehehe. Masalah keterlambatan bicara ini memang bikin orangtua ketar-ketir, beruntung sekarang orangtua aware ya

    ReplyDelete
  2. Membawa anak ke lingkungan yang menstimulus untuk berbicara, dan sekarang bisa mengikuti program dini.id ya kak orangtua turut tebantu

    ReplyDelete
  3. Baca ini membuat saya maktratab alias langsung teringat kalau punya bayi yang harus terus distimulasi berbicaranya. Masih 10 bulan, memang, tapi saya harus tahu di usia sekian bisa apa sehingga bisa persiapan di bulan selanjutnya.
    Dini.id ini, tampaknya bisa jadi solusi untuk terapi okupasi bagi anak-anak yang speech delay, ya. Karena terapi okupasi itu selain lama, mahal, juga kadang ibu mandek di tengah jalan karena salah paham dengan terapis saat tiba masa observasi. Mahal-mahal bayar, anak cuma disuruh bermain. Hehehe. Ada beberapa ibu yang mengeluh begitu.
    Nah, kalau dini.id ini kan semua transparan, jadi ibu tahu apa yang didapatkan saat sesi terapi.
    Aplikasi dan usaha yang bagus. Keren!

    ReplyDelete
  4. Aku lho kasian sama anak saudara yang jarang diajak ngomong sejak kecil dan akhirnya mengalami Speech Delay. Ya itu tadi mikirnya, gerak dulu ngocehnya belakangan. Alhamdulillah sekarang info makin banyak kaya Dini ID ini ya

    ReplyDelete
  5. Informasinya lengkap banget,
    Tapi peran orang tua sangatlah penting untuk perkembangan anak, apalagi kalau ada teman sebaya nya yang udah lancar bicara.

    ReplyDelete
  6. Wah, Informasinya bermanfaat banget nih soalnya pengalaman anak saya Azzam yang spech delay, di saranin nya di geget sama ibu dan nenek (gigit gelang emas) bukannya di ajar dengan metode seperti ini.

    ReplyDelete
  7. Hwaaa Mbak Ruli tulisannya bagus dan jelas banget nih. Kakak iparku beberapa waktu lalu cerita soal anaknya yang speech delay. Aku kasih tulisan ini ah~

    ReplyDelete
  8. Sering banget baca tentang keluhan ibu-ibu yang anaknya dibanding-bandingkan. Dan biasanya kalau baca cerita berbagai sumber, aku sadar memang setiap anak itu punya fase-fasenya masing-masing jadi gak perlu dibandingkan.

    Bermanfaat banget ini infonya buat ibu-ibu yang lain, keren!

    ReplyDelete
  9. Ternyata penting banget ya belajar ilmu parenting sejak dini, biar kalau ada hal yang janggal pada anak, tau solusi untuk mengatasinya secara ilmiah :)

    Terus kalau pun memang ada yang perlu didiskusikan, lebih baik diperiksakan ke dokter, ketimbang dengerin judgment dari orang yang belum tentu benar

    ReplyDelete
  10. Kebetulan saya punya temen yang anaknya speech delay. Udah 5 tahun tapi belum bisa berbicara. Berusaha untuk mendatangi bannyak dokter dannterus berupaya. Terbayangvsekali perjuangan ibunya dulu

    ReplyDelete
  11. Waalaikumsalam.

    Speech delay ini memang butuh peran orangtua karena biar bagaimanapun orangtua yang bertemu dengan anak setiap hari di rumah. Mereka harus mengajak anak berbicara supaya mendapat respon sejak dari kecil. Jangan lagi jadi orangtua yang cuek bebek*

    ReplyDelete
  12. kebanyakan orang memang selalu mencibir klo anaknya sedikit punya kekurangan atau masalah salah satunya speech delay. paling sebel banget ada org uyg ngomong kaya gitu padahala kan ada tahap tahapannya dan sepertinya untuk merangsang sensor si anak harus sering sering dilatih ya kak

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan saya, Semoga bermanfaat. Ambil baiknya tinggalkan buruknya. Silakan tinggalkan komen yang santun ya tapi jangan tinggalin link hidup. Apalah arti tulisan saya tanpa kehadiran kalian..