Mengatasi Uban Secara Alami

Ilustrasi rambut beruban (bukan rambut saya) 😅

 Pernah nggak punya uban di usia dini? Ya belum tergolong tua gitu usianya. Belum jadi nenek/kakek bahkan belum sampai usia lansia 50+. Aku awal punya uban di usia belum sampai 35 tahun yang menurut aku saat itu belum tua. Bahkan di usia itu anak-anakku yang bertiga masih balita. Kaget, sedih, sudah pasti sangat berasa. Jadi insecure meskipun aku berhijab juga nggak terlihat orang rambutnya.

Apa aku sejompo itu? Di era teknologi beberapa tahun lalu tentu sudah mudah mendapatkan informasi, bukan? Aku baca, kalau orang tua beruban kan karena kondisinya memang sudah menurun, ya menandakan tua. Tapi kalau beruban sebelum tua itu faktor stres, kurang nutrisi, dan faktor-faktor yang berkaitan sama kondisi tubuh yang menurun sebelum waktunya.

Saat itu aku mengakui, bahwa mengurus 3 anak dengan jarak usia dekat dan tanpa ART itu gak mudah. Kalau dari segi pekerjaan mungkin aku sudah di mudahkan dengan adanya laundri, suami juga bukan tipe menuntut rumah harus bersih dan makan harus enak tersedia di meja. Beliau tidak pernah komplain, justru banyak bantu kerjaan rumah. Makanan sering beli, dan turut serta dalam pengasuhan. Tapi kalau suami sedang bekerja dari pagi hingga jelang magrib, disitulah energiku benar-benar terkuras terutama soal emosional. Yang orang-orang bilang, inginnya selalu jadi ibu peri tapi apa daya, kadang kelepasan jadi kaya ibu komandan barak militer. 

Apa yang kulakukan dulu dengan Uban di usia dini

Ya, pertama adalah menerima. Ya udah mau gimana lagi, Allah yang kasih, kalau dicabut juga katanya nanti makin banyak, oh BIG NO. Lagian siapa juga yang mau nyabutin? 3 balita ini? Nyehhh, ngarep apa? Hehe.. teringat dulu nenek aku yang belum banyak beruban padahal aku sudah SD, beliau selalu kasih upah kalau aku berhasil cabut uban, upah dihitung perhelai. Tapi rambut nenek aku memang gak banyak ubannya, jadi ya gak banyak yang bisa dicabut. 

Rambut nenekku sehari-harinya di olesin minyak kelapa, yang beliau buat sendiri. Orang suku banjar menyebutnya minyak lala. Selain karena beliau juga menikah di usia muda, usia 14 tahun menikah dan ibuku adalah anak ke 2, beliau juga merawat rambut dengan bahan-bahan alami. Jadi ya kalau nggak banyak uban itu wajar banget. 

Solusi yang kupilih adalah membiarkan uban itu ada, meskipun dapat teguran dari orang-orang yang bisa melihat rambutku seperti orang tua, adik, dan teman perempuan. Kok udah ubanan? Banyak juga ubannya ya? Wahh udah ubanan ternyata, yah kata-kata semacam itu yang menurutku bikin mewek, huhuhu… aku aja butuh waktu menerima uban ini eh bukannya di kuatin malah makin down. Tapi bukan down yang gimana-gimana sih, ya agak malu aja gitu berasa nenek-nenek.

Solusi berikutnya adalah mewarnai rambut, wahh ini part paling nyenengin. Aku mewarnai rambut jadi berbagai warna coklat seperti dark brown, mahogany, chesnut, bahkan pernah juga marun, tentu saja tidak ngejreng karena basic awal rambutku masih dominan hitam dan belum bisa mengalahkan warna cat rambut. Jadilah warna-warna rambutku hanya sebatas semburat dan baru akan sangat nampak kalau kena matahari. Ya kan aku pake hijab, kapan juga rambutku kena matahari. Intinya warna rambut ini berhasil menutupi uban dan bagusnya cuma dinikmati suami serta mahromku lainnya. 

Apakah ini solusi? Hingga usia 35+ aku masih menganggap ini solusi hingga akhirnya aku lelah. Lelah mewarnai, lelah ngurusinnya, lelah juga ngeluarin uangnya. Nah, disinilah solusi baru yang lebih alami akhirnya aku dapatkan.

Cara alami mengatasi uban di usia 40

Yeaaah, sekarang sudah memasuki usia 40, iya 40 banget nih. Udah ketok palu memasuki genk usia kepala 4, alhamdulillah alhamdulillah sampai usia di titik ini dalam keadaan sehat walafiat dan segala nikmat yang Allah titipkan.

Di tahun 2020 keatas terutama setelah masa covid, ramai sekali orang membahas tentang isu kesehatan mental, self love, akibat banyak ibu mengalami depresi. Nah dari situlah aku mulai mendapat edukasi. Bagaimana aku menjadi ibu dengan tetap mencintai diriku sendiri. Yang ternyata, in the end itu berdampak sangat besar dalam hidupku termasuk ke uban. Dengan menerapkan self love ini akhirnya aku berhasil mengurangi banyak ubanku. Ini dia usaha-usaha secara ‘alami’ yang aku lakukan

1. Aku tak lagi memakan sisa anak

Hah? Kenapa jadi nomer satu ini, tapi memang iya. Setiap makan di rumah atau di luar, aku sering memakan sisa anak dengan alasan ‘sayang’ kalo gak habis kebuang. Dengan alasan biar hemat. Alhasil setiap yang aku makan adalah kesukaan anak, bukan kesukaanku. Sekarang aku tak pernah lagi begitu, aku memesan yang aku suka juga, kalau nggak habis aku bungkus bawa pulang sisanya. Tidak ada yang mubazir toh suamiku juga tidak marah aku memesan seporsi yang khusus kesukaanku sendiri, sedikit egois tapi itu gapapa, aku happy secara mood, akhirnya imbasnya juga ke anak, mereka juga happy.

Dalam hal ini juga termasuk makanan-makanan bergizi di rumah. Dulu ikan-ikan dan asupan bergizi, di utamakan buat anak, aku sisanya, memegang teguh prinsip, yang penting anak. Sekarang tidak lagi, aku juga hatus sehat, aku juga harus makan bergizi, aku juga harus minum susu, makan vitamin, makan buah-buahan enak. Iya budget memang meningkat tapi tidak signifikan. Suamiku pun menyadari setiap beliau memenuhi kebutuhanku, rezeki mah ada aja dikasih Allah. Aku sekarang makan bergizi dan sehat sama seperti anakku. 

Hubungannya sama uban apa? Pertama kita happy, bukan berarti makan sisa anak nggak happy, kan itu pilihan kita. Tapi pasti kita merasa lebih happy memakan makanan kesukaan yang kita pilih sendiri, next-nya kita juga tercukupi kebutuhan gizi, vitamin, dan suplemen lainnya. Intinya, jangan semua mengutamakan orang lain, anak atau orang tua kita, sementara kitanya kekurangan asupan esensial penting. 

2. Aku punya social time

Dulu aku menganggap bertemu teman-teman di cafe sebulan 1-2x itu cuma hal nggak perlu, nggak darurat, toh ngobrol ini itu masih bisa via chat. Buang-buang energi dan uang, dampaknya gak jelas buat apa selain seneng-seneng. Tapi ternyata dampak seneng-seneng itu yang sebenarnya kita butuhkan sebagai ibu. Keluar dari rutinitas, melepas penat, nyampah obrolan sama teman-temen curcol hal gak jelas tapi tetap di bahas, ya ngeluatin uneg-uneg yang ditahan selama sebulan lah ibaratnya, healing paling ringan. 

Mungkin kalau orang bilang healing itu dengan solat, ngaji, cerita sama allah. Percayalah, aku pun melakukan itu. Aku happy kalo sudah curhat ke Allah, tapi itu kan hubunganku dengan Tuhanku, akan beda suasananya dengan kita ketemu teman-teman ngobrol ngalor ngidul ngetawain hal-hal receh dan kocak yang kita alami, beda donk dengan hubungan kita sama Allah. 

Setelah aku coba nongkrong 1-2 jam bersama teman, nggak selalu ke kafe sih, bisa juga ke rumah teman, atau maksi di warung. Intinya bersosial aja dengan teman-teman yang nyambung dan seru itu benar-benar bikin mood jadi baik. Untuk para suami, coba deh kasih kesempatan istrimu yang punya bayi, suruh dia ketemuan sama bestinya 1-2 jam aja dalam sebulan, pulangnya pasti beda moodnya. Terus kalau kita mengingat dalam islam itu perempuan yang baik adalah perempuan yang nyaman dan betah di rumah, well… kalo cuma ke kafe 1-2 jam sebulan sekali, menurut aku pribadi itu nggak dikatakan perempuan gak betah di rumah, toh nggak tiap hari dan gak lama. Ninggalin anak 1-2 jam juga pasti nggak akan dianggap sebagai ibu yang lalai, toh juga kalau mood kita baik nanti anak-anak bisa happy, itu dari POV aku ya.

3. Lebih fokus menyayangi rambut

Pengen rambut hitam lagi, uban berkurang, tapi nggak ada usaha dan nggak mau ngurusin terus keinginannya itu buat apa?

Kalau dulu cuma sekedar nyari shampo yang cocok, nggak ketombe, nggak rontok cukup. Saat ini aku coba beralih ke shampo non SLS, aku coba pake vitamin rambut yang aku apply tiap habis keramas. Ada kan vitamin rambut yang bentuknya kaya biji kapsul itu yang isi 6, itu murah aja kan. Nah, aku beli 6 biji untuk sebulan, jadi per 5 hari aku pakai lah itu vitamin, meski nggak setiap habis keramas memakainya tapi tetap ada dampaknya. Shampo non SLS juga nggak semuanya mahal, meski ada juga yang tanpa busa, alhamdulillah aku dapat shampo non SLS yang cocok, berbusa dan harganya tergolong standard seperti harga shampo di pasaran. 

4. Menikmati yang ada

Semakin usia beranjak dewasa, dengan berbagai cobaan hidup sudah dijalani otomatis membuat kita semakin bijak, semakin bisa menikmati hidup. Bagaimana hidup bisa tenang dan nikmat selain dengan mendekatkan diri kepada Tuhan kita? Dengan mensyukuri yang ada, kurang-kurangi overthinking. Dunia memang makin keras, kadang kita terlalu keras memikirkan apa yang terjadi sama anak-anak kita 10-20 tahun, kita terlalu keras memikirkan negeri ini yang makin hari makin ada aja gebrakannya, makin marak kasus kriminal, dll. Dikurangi aja overthinkingnya supaya otak nggak dipaksa terlalu keras berpikir. Don’t be hard to yourself, ya..

Bukan berarti nggak mikirin masa depan, tapi secukupnya saja, pikirkan apa yang dihadapi sendiri. Fokus sama ya g di depan mata, nggak usah banyak memikirkan apa yang tidak bisa kota rubah, terutama sesuatu yang viral-viral mungkin bisa di bahas seperlunya komentarin sewajarnya lalu sudah lupakan. Jangan sampai overthinking membuat kita jadi sulit tidur, dampaknya nyata banget ke kesehatan dan mungkin ke uban juga.

5. HARUS OLAHRAGA

Sampai aku buat huruf kapital saking pentingnya. Nggak ada kata terlambat untuk memulai, ujar semua pakar olahraga. Mau under 30, under 40, sudah 40+, semua tidak terlambat untuk memulai. Olahraga terbaik bukan lari, yoga, gym, atau apapun, tapi olahraga terbaik adalah olahraga yang dilakukan secara rutin dan konsisten. Ingat ya, dilakukan. 

Hubungannya apa sama uban? Ketika olahraga dilakukan dengan rutin, tubuh kan pasti merespon dengan memberikan metabolisme yang baik, gizi-gizi terserap dengan baik lalu berdampak ke seluruh bagian tubuh. Olahraga kan juga terbukti menurunkan kadar stres, membuang racun-racun tubuh lewat keringat dan urine, dan efeknya lainnya juga rambut kita akan lebih sehat nggak cuma badannya saja.

========

Nah, setelah saya menerapkan hal-hal diatas tadi alhamdulillah biidznillah uban-uban berkurang banyak. Awalnya aku juga tidak menyadari, hanya saat itu suami bertanya kenapa aku sudah lama tidak mewarnai rambut.

Setelah aku cek kok ubanku segini-gini aja, cuma sedikit. Biasanya kalau aku biarkan berbulan-bulan akan makin banyak makin panjang juga uban tapi ini kok cuma segini, dalam taraf yang nggak separah dulu dan nggak di cat pun aku masih pede aja karena sedikit sekali. Alhamdulillah sudah lebih dari setahun ini aku tidak mengecat lagi rambutku, sekarang juga ubannya sedikit, dan kalo di elus terasa lebih sehat. Apa ada rontok karena berhijab? Ada donk tapi belum masuk kategori rontok parah, masih minim saja rontok helaiannya.

Memang dengan menerapkan hal-hal diatas, tidak bisa menghilangkan sama sekali uban secara alami di kepala, apalagi aku sekarang sudah kepala 4. Tapi bisa mengurangi signifikan dan mengurangi intensitas mengecat rambut. Kalau dipikir-pikir semua tips aku diatas itu kuncinya ya cuma 1 saja? Yaitu merawat dan mencintai diri, sambil merawat dan mencintai orang lain tetap kita harus mencintai diri kita secara ugal-ugalan. Supaya sehat juga fisik dan mengurangi uban akibat kekurangan gizi esensial dan stres fikiran lainnya.

Self love adalah koentji rambut sehat dan minim uban

Tau nggak sih, menurut info yang aku baca bahwa uban itu ternyata respon tubuh ketika ada bagian tubuh yang sakit tapi sakitnya justru di alihkan dengan mengorbankan rambut. Jadi tubuh memilih untuk menjaga organ-organ vital dalam tubuh lalu kerusakannya di alihkan ke rambut untuk dikalahkan lalu jadilah rambut beruban. Misalnya tubuh sedang melindungi jantung, paru, ginjal atau apapun yang vital akhirnya damage-nya rambut sedang mengorbankan diri menyelamatkan anggota tubuh yang lain, huhuhu… mewek setelah tau pengorbanan rambut ini demi kesehatan organ tubuh lain. 

Pantesan dalam islam juga di larang mencabut uban tapi boleh diwarnai. Sesuai dengan dalil berikut ini

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

لا تنتفوا الشيب فإنه نور يوم القيامة ومن شاب شيبة في الإسلام كتب له بها حسنة وحط عنه بها خطيئة ورفع له بها درجة

Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. Siapa saja yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Nah, apakah sudah ada bayangan sedikit. Nanti akan bagaimana menghadapi uban-uban yang ada, yang jelas uban yang tumbuh lebih dini bisa diatasi tapi tidak dengan mencabut ya gaes. Meskipun uban ini sebenarnya bikin gatal kepala kadang, tetep weh jangan dicabut. Mending coba dikurangi dengan merubah gaya hidup jadi lebih sehat aja. Semoga bermanfaat ya









1 comment

  1. olahraga paling penting agar lahir batin sehat sentosa ya kak :D semangattt

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan saya, Semoga bermanfaat. Ambil baiknya tinggalkan buruknya. Silakan tinggalkan komen yang santun ya tapi jangan tinggalin link hidup dan jangan berkomentar anonim ya. Apalah arti tulisan saya tanpa kehadiran kalian..