Sunday, 18 September 2016

Cerita kelahiran si bungsu, Qodhi

Assalamualaikum...
   Setiap kelahiran pasti memiliki kisah masing-masing. Saya cuma mau cerita kisah kelahiran anak bungsu saya 4 bulan yang lalu. Yah, mungkin kelak dia akan baca tulisan saya.


Ketika menjelang HPL seperti biasa kontrol dokter kandungan menjadi lebih sering. Saat itu papanya menjelang keberangkatan pindah kerja ke palu. Papanya tanya dokter gimana kalau lahiran jumat ini (saat itu 13 mei 2016, masi 2 minggu sebelum HPL). Setelah dicek bisa kata dokter. Beratnya sudah 3kg, usia 38w dan cukup mateng untuk dilahirkan. 

Qodhi memang harus dilahirkan sebelum HPL 1 juni karena jaraknya terlalu dekat dengan kakaknya Qowiy. Jadi saya tidak boleh sampai kontraksi karena beresiko rupture bekas SC sebelumnya. 

Singkat kata, kami memilih 13 mei karena hari jumat, hari yang dalam islam di anggap penghulu hari dan papahnya dijadwalkan akan berangkat ke tempat tugas yang baru pada hari minggu 15 mei 2016. Papanya maunya mengadzankan dan menemani sibungsu. Jadilah fix 13 mei 2016.

Singkat cerita, saya yang sudah 2x SC sebelumnya, sudah pasrah. Saya sadar bukan mau saya untuk lahiran SC, saya menutup kuping akan semua cerita ga enak tentang SC dan tentang jarak lahir anak saya yang terlalu dekat. 

Bagi saya, anak itu di titipkan ke rahim saya di waktu terbaik. Allah menitipkan Bukan TIDAK SENGAJA. Jadi tidak ada yang namanya kebobolan lah, gak bisa jaga jarak lah, dan komen gak enak lainnya. Omong kosong semuanya. Allah yang menentukan kapan waktu terbaik saya untuk dititipi anak.
Foto sebelum saya SC bersama mas Qowiy

Qodhi akhirnya lahir di usia abangnya 20 bulan. Saya yang bius setengah badan saja berasa lega pas dengar suara tangisnya lalu ia di bawa perawat untuk dibersihkan sebentar.

Gak lama kemudian suster datang menunjukkan ke saya, anak saya laki-laki sehat sempurna 2.8 kg panjang 50 cm. Memang cek usg tidak selalu pas ya. Kemarin di usg dia 3 kg. Tidak apa yang penting sehat sempurna. 

Hampir mirip kejadian anak ke 2, ketika proses penutupan bekas operasi saya mengalami perasaan sesak nafas yang membuat saya panik padahal kata dokter anastesinya kondisi nafas saya baik-baik saya kalau diliat dari alat pengukur oxygen tubuh. Jadi daripada saya terus panik karena susah bernafas, saya di tidurkan.

Jadi ketika semua proses hingga saya di bawa ke kamar, saya sadar tuh. Tapi ngantuk berat, jadi cuma mendengar aja, berat banget mau buka mata.

Ketika efek obat tidur sudah hilang, seperti ibu lain pada umumnya saya mencari bayi saya. Katanya masih di inkubator dihangatkan. Padahal dulu pas anak ke 2, saya langsung IMD. Berkali-kali saya minta ketemu bayi saya. Selalu gak dikasih. Sampai saya dengar suster datang, katanya dokter anak mau bicara sama suami saya. Saya sudah feeling ga enak, ada apa dengan bayi saya. Kan kemarin lahir baik-baik saja.

Sekembalinya dari ketemu dokter, suami saya mukanya agak gak enak. Saya tanya kenapa. Dia jawab tidak ada apa-apa. Lalu kenapa saya gak bisa ketemu bayi saya, saya mau IMD. Kata suami saya, saya harus cepat bisa keluarin ASI dan harus segera pulih, biar bisa menemui dia di ruang bayi. Begitu saja. Fix.. pasti ada sesuatu terjadi.

Gak ada yang bisa mengalahkan feeling seorang ibu. Meski di sembunyikan saya pasti berasa. Karena si kakak dulu juga di hangatkan tapi tetap bisa IMD. Kenapa harus menunggu saya yang kesana. Ada apa ini.

Tapi saya gak mau banyak komen. Saya pastinya penasaran. Saya berusaha banget untuk bangun meski jahitan saya masih sakit. PD saya pun saya pijat sendiri untuk segera mancing ASI keluar. Dan saya berhasil. Alhamdulillah mulai keluar beberapa jam setelah saya SC.

ASI saya dari hari kehari support penulihan Qodhi

ASI pertama keluar 15ml. Alhamdulillah.. segala puji hanya untuk Allah. Saya bilang sama suami carikan saya kursi roda. Angkat saya ke kursi. Antar saya ke ruang bayi. 
Qodhi hari pertama masi gemukan pipi nya

Dan ya, feeling ibu selalu benar. Terjadi sesuatu pada Qodhi, paru-parunya bermasalah, nafasnya drop di bawah angka 50. Ya.. dia tidak bisa keluar inkubator karena bertahan hidup melalui supply oxygen. Ibu mana yang bisa menahan air mata melihat bayi mungilnya dengan selang-selang di hidung berusaha keras bertahan hidup.

Eh tapi anehnya, disisinya saya ajak dia bicara dan saya tidak menangis. Asli saya hanya terpikir saya harus memberinya semangat hidup. Gak kepikir menangis juga. Alhamdulillah dia merespon kehadiran saya. Nah.. pas dikamar baru deh mewek. Hehehe

Bagaimana awalnya, dia tersedak terminum air ketuban ketika lahir. Entah bagaimana ceritanya saya menganggap itu musibah. Bukan berarti saya tidak mau tau penyebabnya, hanya saja saya lebih fokus kepada penyelesaian terbaiknya saja.

Setelah Di rontgen dan benar ada cairan ketuban masuk paru-parunya. Saya, tetap bersyukur karena cepat ketahuan, saya tidak mau khusyuk bersedih. Saya justru bersemangat cepat pulih dan pengen mengeluarkan ASI sebanyak-banyaknya.

Saya tidak bisa memaparkan bagaimana secara medisnya kejadian ini karena memang saya gak ngerti banyak, daripada saya salah tulis. Hehehehe..  

Hari kedua, ASI masih keluar sedikit, namun Qodhi di infus untuk memasukkan obat untuk membersihkan paru. Entah bagaimana mekanisme secara medisnya. Yang saya tau bayi saya membaik, dan saya hanya perlu bersabar karena belum ada tanda-tanda boleh keluar inkubator.

Masih di Hari kedua di RS waktunya papanya harus berangkat ke palu, demi tugas. Berat rasanya, suami cuma berkata jaga anak-anak. Itu saja. Lalu bagaimana saya tidak menangis, dititipi 3 anak yang masih kecil-kecil, jahitan masih basah dan sibayi juga bermasalah. Saya jelas butuh ditemani ya kan.

Maunya sih protes ya tapi ini sudah kami putuskan berdua sebelum musibah ini ada. Lagian siapa sih yang merencanakan musibah ini? Pasti Allah yang Maha baik mengatur ini semua.

Tapi, apa saya punya pilihan? Saya hanya bisa menjalani. Kenapa suami saya berangkat ke palu. Itu keputusan kami, saya mendukung, saya kuatkan dia untuk berangkat. Tenang saja, kami akan baik-baik saja. Begitu saya bilang. Buat apa saya resign bekerja kalau saya gak bisa support karir suami saya. Yah..itu versi saya sebagai istri yang kuat. Meski ada kalanya saya rapuh juga. Kayanya saat itu memang saya berada di mental terkuat saya. Hehehe..

Sebelum berangkat kami berdua masih sempat merevisi nama bayi yang kami buat. Kenapa direvisi? Saya mau ada nama yang mendoakan dia agar sehat. Agar hidup dan selamat. Langsung saya googling. Dan kami menyematkan satu kata baru. Dan terpaksa membuang satu kata lainnya. Mudah-mudahan jadi doa agar ia sehat.

Seperti melihat di iklan-iklan bayi ajaib, setiap saya datang ke ruang bayi dan membelainya nafas anak saya naik dan selalu begitu. Dan itu memberi saya semangat juga untuk cepat pulih. Bahkan ketika waktunya saya keluar RS (hari ke-4 saya keluar RS). Kondisi nafasnya sudah di angka 89 (nafas normal di atas 90 kan ya katanya).

Akhirnya saya pulang, di temani teman-teman dan orang tua saya. Sedih ? Sedikit. Kalau saya terlalu sedih nanti ASI saya seret. Apalagi suami juga pasti akan kawatir kalo saya sedih. Saya harus kuat. Cuma itu pilihan saya waktu itu.

video


Kalau liat video ini, ketika saya membelai Qodhi yang berat badannya menurun drastis ketika di inkubator akan merasa terenyuh. Dia kurus sekali. Saya terharu setiap melihat video itu. Karena dia merespon dan nafasnya langsung membaik.

Pas ketika hari ke-5 nafasnya sudah normal ternyata muncul masalah baru. Qodhi menguning. Ya Allah..saya mau ia cepat pulang, saya mau jemur dia. Katanya kalau terlalu kuning qodhi harus di sinar dan nambah 2 hari lagi di RS. Saya nyaris tersungkur, tolong sehatkan anak saya ya Allah. Ijinkan saya membawanya pulang sore ini. Begitu saja saya berdoa sambil terus berzikir dan memompa ASI saya.

Dari pagi hingga sore saya menunggu keputusan dokter anak apa anak saya boleh saya bawa pulang. Sambil menunggu itu saya perah ASI dimana saja, di musola, dirumah teman saya yang dekat situ, di ruang bayi, dan langsung saya berikan fresh untuk Qodhi. Saya berharap bisa membuat kuningnya berkurang dengan ASI yang masih sangat kuning tinggi colostrum. 

Alhamdulillah pukul 16.00 pas dokter anak bilang bayi saya boleh pulang karena kuningnya tidak seberapa parah dan nafasnya sudah di angka 98. Dia Masih bisa normal dengan dijemur saja tidak perlu di sinar. Dengan catatan nanti dia harus kontrol 3 hari kemudian dan vaksin penguat paru-paru di usia 2 bulan.

Akhirnya saya bawa dia pulang dengan sukacita. Badannya saat itu sangat ringan, saya lupa menimbang saking ingin cepat pulang tapi saya yakin ini bb nya lebih rendah daripada pas dia lahir, karena pipinya jauh lebih tirus. Dia juga Jauh berbeda dengan kedua kakaknya yang lahir dengan BB 3.75 kg dan 3.8 kg. Tidak apa ya nak, kamu bisa hidup dan sehat saja mama sudah senang.

Di awal hari-harinya dengan tinggal tulang berbalut kulit, saya rawat dia dengan fokus. Cukup sinar matahari, cukup ASI, dan saya meminta maaf pada sang kakak karena kurang fokus beberapa waktu ini. Setelah 3 hari kontrol pun Qodhi masih kuning tapi sudah nyaris hilang. Tinggal dimata saja terlihat kekuningan.

Memang seperti sudah di info dokter anak sebelumnya, anak dengan riwayat tersedak air ketuban nanti juga akan mudah tersedak saat minum susu, mudah muntah, biasanya kalau telat penanganan akan mudah kena asma. Apa mungkin saya ini dulu juga ada tersedak ketuban tapi gak ketauan, karena saya kena asma sejak usia 9 bulan. Hehehe..

Qodhi memang gampang gumoh, dan harus extra hati-hati berbeda ketika merawat kakak-kakaknya dulu. Bahkan sekarang diusianya sudah 4 bulan saat dimandikan dia bisa saja tiba-tiba gumoh. Tapi saya tidak mengeluh, bagi saya Allah ijinkan Qodhi hidup saja saya senang luar biasa. Saya tau setiap anak memiliki kisahnya masing-masing. Dan tidak akan sama satu sama lain.

Ini foto keesokan hari setelah pulang RS, pas dijemur
Jadi gak pake baju, kurus banget
Nih saya sempat mengabadikan foto-fotonya ketika di jemur awal hari-harinya. Kurus banget kan ya. Kalau liat kakinya itu  di foto paling atas hanya tulang berbalut kulit. 

Dengan keadaan begini akhirnya kami memutuskan untuk melaksanakan aqiqah ketika papahnya nanti pulang cuti saja. Pas ketika ia berusia 2 bulan. Agar Qodhi lebih sehat untuk bertemu orang banyak dan Setelah lebaran pas ketika banyak saudara juga sedang berkumpul.

Nah Dari kepulangan suami itu saya baru tau, bahwa ketika ia mau berangkat, papahnya ternyata sudah menandatangani surat kematian bayi Qodhi karena sudah diperkirakan usianya tak akan lama lagi. Bahwa pada saat itu ia pun sudah pasrah jika Allah mengambilnya. Kenapa dia tidak menceritakan itu kepada saya ?

Mmmmm. Ya Allah, saya membayangkan betapa beratnya keberangkatannya saat itu. Meninggalkan saya yang masih belum pulih pasca SC bersama 2 anak saya yang masih toddler dan bayi yang sudah diperkirakan tidak lama lagi usianya. Ibu saya pun ketika diceritakan itu kaget.

Katanya, kalau saat itu dia ceritakan, pasti semua akan panik. Padahal tidak ada yang bisa kita lakukan juga selain berpasrah. Takutnya malah sebaliknya saya shock, ASI gak keluar dan melihat dia berangkat makin berlipat-lipat saya sedihnya. Jadi dia memilih membawa cerita itu pergi bersamanya ke Palu. Tsahhhh...

Terimakasih suamiku untuk tidak menceritakan itu. Karena kalau aku tau mungkin aku akan stres dan memang ASIku bisa saja berhenti.

Suamiku, Kamu memang sudah layak menyandang status papa bijak karena sudah bijak memilih mana yang harus di sampaikan dan tidak ke istrimu yang mudah baper ini. :D

Akhirnya kami memberinya nama :
Yusuf Al-Qodr Afiyat Laksono

Yusuf adalah panggilannya sejak ia dalam perut. Papanya selalu memanggilnya yusuf biar ganteng dan berakhlak seperti Nabi Yusuf dan emaknya juga ngefans tuh sama ustadz Yusuf Mansur.. hihihi

 Al-Qodr untuk menyamakan semua kakaknya yang panggilannya berawalan Q. Yang artinya Al-Qodr adalah kemuliaan. Nah, afiyat mungkin orang mengartikan itu sehat ya. Karena orang sering bilang sehat walafiat. Padahal..

Ternyata artinya lebih dalam dari itu, di kutip dari www.muslim.or.id

Kata afiat sesungguhnya termasuk serapan dari Bahasa Arab ( الْعَافِيَةُ, al-‘âfiyah). Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam mempergunakan kata itu dalam rangkaian doanya. Maka, pemahaman terhadap kata tersebut akan tepat bila mengacu dalam buku-buku literatur Islam.
Pengertian afiyat dalam Islam cakupannya luas dan berdimensi dunia dan akhirat. Luasnya makna ‘âfiat tampak secara tekstual pada doa yang diajarkan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam berikut ini:
اللهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةَ, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِيْ دِيْنِيْ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ…
Ya Allah, sesungguhnya aku betul-betul memohon kepadaMu maaf, dan ‘afiyat di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku betul-betul memohon kepadaMu maaf dan ‘afiyat pada agamaku, keluargaku dan hartaku…” (HR. Abu Daud 5074, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud)
Secara global, afiat adalah perlindungan Allâh bagi hambaNya dari berbagai macam penyakit dan bencana. Makna afiat di dunia dan akhirat yaitu memperoleh keselamatan dari hal-hal yang buruk, yang otomatis mencakup seluruh keburukan yang telah berlalu maupun yang akan datang.
Afiyat mencakup keselamatan dari berbagai fitnah, penyakit, musibah dan hal-hal buruk lainnya yang terjadi di dunia ini. Sementara afiyat di akhirat, mencakup keselamatan dari siksa setelah kematian, seperti siksa kubur, siksa Neraka dan kengerian yang terjadi antara keduanya, hisab dan kesulitan-kesulitan lainnya.
semoga nama tsb menjadi doa untuk kehidupan Qodhi agar sehat fisik mental dunia akhirat. Aamiin.

Nah kenapa jadi di panggil Qodhi, ya karena memanggil Qodr akan sedikit sulit. Seperti halnya kakaknya Qorira yang di panggil Qory. Saya selalu berusaha setiap detil panggilan anak saya memiliki makna. 

Jadi
(bahasa Arab: قاضي‎) adalah seorang hakim yang membuat keputusan berdasarkan syariat Islam. Islam tidak pengenal adanya pemisahan masalah agama maupun yang berkaitan dengan hukum, sehingga Qodhi berperan dalam penengakan aturan bagi setiap muslim. (Wikipedia)

Simplenya sih dalam islam artinya Hakim yang menegakkan syariat islam. Sudah lama pengen nama ini tapi baru kesampaian di anak ke 3. Hehehe..

1 minggu, 3 minggu, 5 minggu
Cepat sekali kenaikan bb nya

Nah dari kisah di atas, saya gak pernah nyangka kalau sesudah pulih bb Qodhi justru kejar tayang. Minumnya lahap sekali. Dan sekarang badannya sangat montok. Qodhi sudah 7 kg ketika usia 3 bulan. Ini foto terbarunya pas lebaran idul adha 2016 usia 4 bulan. Tau deh sudah berapa beratnya sekarang. 

Idul adha 12 september 2016
4 bulan. Montok

Ga nyangka kalau di ingat-ingat pas lahirnya dia akan sehat montok begini. Mana murah senyum banget. Allah ijabah doa yang ada dalam namamu nak. 

Tidak semua kejadian seperti anak saya ini bayinya berhasil selamat. Tapi jika mengalami ini, pesan saya cuma satu. Ingat Allah saja. Allah yang memberi anak ini, jangan panik, berusaha yang terbaik sambil terus meminta hanya kepada Allah saja. Berserah. Usahakan serileks mungkin, terus keluarkan ASI atau kalau perlu carilah donor ASI. Just do your best..

Lewat tulisan ini saya juga mau berterima kasih sama kedua orang tua saya dan semua saudara kerabat dekat juga para sahabat yang mendukung saya melalui bantuan langsung siaga, bantuan doa, semangat, materi, dan segalanya saat saya melalui masa-masa sulit tsb. Alhamdulillah Allah kirim kalian untuk saya..

Oya, satu hal lagi. Barangkali ada yang sependapat, Saya termasuk orang yang sangat sedih kalo ada orang bilang anaknya hasil dari "kebobolan" plisss.. jangan pernah katakan seolah-olah anakmu adalah hasil "tidak sengaja" atau seolah kalian sebenarnya tidak mengharap ia hadir ke muka bumi ini.

padahal kamu melakukannya dengan pasangan mu secara sadar, right? Kecuali kalian melakukannya di alam bawah sadar atau sambil nyabu atau sambil mabok.

Mungkin akan lebih etis jika kita bilang kehamilannya "tidak di rencanakan sebelumnya" karena Allah ngasih kita anak itu bukan main-main loh. Tanggung jawab kita dunia akhirat pada anak kita. Seolah-olah kita kaya ngeluh "saya ga minta kok di kasih anak sih ya Allah"

Di luar sana, ada ratusan mungkin ribuan pasangan merencanakan kehamilan, Promil dengan berbagai cara namun belum diijabah Allah. Jangan sampai kita yang dengan sengaja melakukan itu lantas mengatakan anak kita hasil "kebobolan" teganya dirimu teganya..

Kalau saya pribadi memang tidak merencanakan tapi juga tidak menunda. Jadi pengalaman anak ke 2 dulu kami nunggu setahun baru bisa hamil. Jadi untuk anak ke-3 kami biarkan saja. Allah saja yang menentukan kapan kami siap punya anak lagi. Dan ternyata alhamdulillah Allah kasih sekarang. Jadi ya Inilah waktu terbaiknya.

Nah.. segitu ajalah kisah kelahiran si bungsu ya.. mudah-mudahan bermanfaat buat yang baca. Ambil baiknya buang jeleknya. Oh iya, kalo ada yang keberatan sama cerita saya ya gak usah di baca. Kalau mau komen jelek tentang kelahiran anak saya langsung saya delete. Makasih... :))


24 comments:

suria riza said...

sehat2 ya qodhi :*... insyaallah sehat.
maaf aku baru tau :") semangat ya :*

Julia Amrih said...

Salam kenal Mba', Lucu ya dedeknya. :)
Sehat terus Ibu dan para jagoan.. :)

nike said...

Salam kenal mba...
Baca pengalaman mba, saya salut sama mba.. Hebat bisa ngga stress saat mengalami ujian berat.

Kebetulan saya juga akan melahirkan sbntr lg dgn sc yg ketiga.. Pengalaman mba bisa menjadikan pelajaran buat saya.

Sehat terus ya qodhi :)

Inda Chakim said...

selamat atas kelahiran putra ketiganya ya mbk
salut atas perjuanganmu dan juga perjuangan si kecil qodhi tentunya

Tira Soekardi said...

selaamt ya dengan kelahiran anak lucunya, kalau bayi sih selalu lucu dan imut2

Amanda Ratih said...

Perjuangan ibu melahirkan ini jihad banget, membesarkan, menyusui. Semangat membesarkan dedek bayi ya bu, salam kenal

akarwangi.com said...

masya Allah..MAs QOdi sehat selalu ya Nak...
Ibu memang harus selalu tangguh ya Mak..

saya juga sedang menanti kelahiran....menghitung hari


salam kenal mak

Nurin Ainistikmalia said...

Iya Mbak, apapun pemberian Allah, apalagi wujudnya anak adalah karunia dan atas kehendak dari Allah. Jadi gak ada ceritanya kebobolan atau istilah gak direncanain ya. Saya sepakat ini Mbak, dan sepakat bahwa di luar sana banyak yang mendambakan anak tapi mendapatkannya dengan sulit. :(.

Tanti Amelia said...

Yaa Allah, ternyata baru jadi mami cantiiik! Selamat menjadi ibu hebat yaa Ruli ^_^ love yaaaa

ayanapunya said...

semoga Qodhi sehat selalu yaa..

Ruli Retno Mawarni said...

Aamiin.. mba echa juga ya sehat2 sampe lahiran

Ruli Retno Mawarni said...

Salam kenal mba julia

Ruli Retno Mawarni said...

Wahhh sehat2 ya mba.. mudah2an lancar dan ga ada masalah apapun sm mba dan bayinya.. aamiin

Ruli Retno Mawarni said...

Makasih mba inda.. kiss kiss

Ruli Retno Mawarni said...

Lucu dan imut kaya saya *huweekk

Ruli Retno Mawarni said...

Salam kenal mba amanda.. makasih sdh mampir ya

Ruli Retno Mawarni said...

Wahh selamat berjuang mba.. sehat2 ya ibu dan bayinya..
Salam kenal juga

Ruli Retno Mawarni said...

Iya mba.. kadang kita mgkn hs mengganti istilah2 yg mgkn tdk enak di dengar terutama krn di dengan Allah yg memberi

Ruli Retno Mawarni said...

Makasih mba tantiiii... kisskiss

Ruli Retno Mawarni said...

Aamiin.. makasih mba ayana

Ika Hardiyan Aksari said...

Mbaaaakk...
Kecup basah utk Abang Qodhi.

Mugniar said...

Waah baru lahiran 4 bulan lalu ya Mbak. Selamat. Barakallah. Semoga dek Qodhy jadi anak shalih :)

Susan said...

Salam kenal mba Ruli...
Cerita kelahiran memang selalu luar biasa. Semoga Qody selalu sehat dan tumbuh makin pintar yaaa...

Keke Naima said...

Insya Allah, selalu diberi kesehatan. Senang bis amelihat Qodhi tersenyum manis :)