Wednesday, 7 October 2015

HARI PANGAN SEDUNIA: Petani Pejuang Pangan dan Gizi Bangsaku

Artikel Lomba Hari Pangan Sedunia 2015 diselenggarakan PERGIZI PANGAN Indonesia

       Sebentar lagi, Indonesia akan menyambut Hari Pangan Sedunia (HPS) yang jatuh tepat pada tanggal 16 oktober 2015 yang puncaknya rencananya akan di gelar di Palembang dan langsung dihadiri Bapak Presiden, jajaran mentri beserta 4000 undangan lainnya. 

     Pada saat itu juga, salah satu acaranya adalah penyerahan penghargaan bagi para petani teladan. Saya langsung berpikir, yah memang sudah sangat sepantasnya ada petani yang tiap tahun diberi penghargaan. Terutama atas jasa mereka. Petani sebagai pejuang pangan dan gizi bangsaku. Ya Bangsa Indonesia yang agraris ini. Kenapa? Ini alasan saya.

     Sedikit berbagi kisah pengalaman terdalam selama dua bulan terakhir, petani benar-benar menjadi ujung tombak kelangsungan hidup kami sebagai warga yang tinggal di Kalimantan. Betapa tidak, dengan asap tebal pembakaran hutan yang sangat pekat selama dua bulan terakhir seharusnya produksi pangan kami menurun drastis. Seharusnya pangan dan gizi kami terganggu dan mungkin 100% mengandalkan dari jawa.

     Tapi nyatanya, dengan asap setebal apapun kami tetap bisa mendapatkan sayuran segar dari para petani, tidak terbatas waktu akan tetapi tersedia setiap hari. Bagaimana caranya? Saya pun menyusur darimana asalnya sayuran segar ini setiap harinya di kota saya, menilik lahan disekitar. Saya yakin sekali sayuran segar ini bukanlah dari Pulau Jawa.

     Biasanya sayuran dari pulau jawa hanyalah sebatas wortel kentang kubis dan sayuran tahan lama lainnya. Bukan sayuran hijau yang fresh mudah busuk. Lalu tercenganglah saya melihat kenyataan perjuangan mereka para petani selama dua bulan ini. 


Kebun sayur banjarbaru - Kalsel segera panen



Apa yang kalian lihat? Sawi dan daun bawang tumbuh subur. Lalu apa istimewanya? Menurut kalian memang ini petani biasa. Tapi tidak jika kalian melihat gambar berikutnya.


Berdampingan dengan lokasi pembakaran lahan
Oknum tidak bertanggung jawab

Supply air yang minim

Tetap gigih merawat sayuran meski tanpa masker

     Apa yang terlihat di gambar tsb? Ya, lahan pertanian di kota saya bersebelahan lokasi dengan bakaran hutan yang sedang berlangsung dua bulan terakhir. Pernahkah kalian bayangkan bagaimana perjuangan para petani mengelola lahan selama asap sedang tebal-tebalnya. Ingin menangis rasanya membayangkan perjuangan mereka harus berjibaku demi tetap tumbuh suburnya sayuran yang di tanam.

  Foto ini saya ambil setelah ada hujan buatan di hari sebelumnya, akhirnya setelah berbulan-bulan kemarau ada juga air hujan yang turun. cuaca segar dan terlihat para petani dengan sigap berada di lahan mereka. Percaya atau tidak foto ini saya ambil pukul 06.30 pagi dan mereka sudah bergumul dengan lahan mereka. Saya masih kalah pagi dengan kedatangan mereka ke lahan-lahan tsb.

    Akhirnya saya memahami, kenapa selama kabut asap tebal dua bulan terakhir kami tidak pernah kekurangan produksi pangan berupa sayur segar, ternyata berkat perjuangan mereka. Ketidak pedulian mereka terhadap asap lah yang membuat kami tetap cukup supply pangan dan gizi selama ini.

     Kalian lihat bangunan putih di belakang petani tsb ? Itu adalah foto sebuah rumah makan yang mengambil view lahan sayur para petani. Tapi sudah dua bulan lebih rumah makan tsb tutup sejak kabut asap tebal menutupi kota ini. Ya tentu saja peminat untuk makan di lokasi yang terkepung asap jelas tidak ada. Penduduk lebih memilih makan di rumah makan yang tertutup.

      Pagi ini saja, setelah hujan buatan asap masih saja ada, cukup tebal untuk area bercocok tanam karena lokasinya bakaran memang sangat dekat. Dan lihat, pasokan air untuk para petani tidaklah banyak, dan tentu mereka pun harus berbagi dengan pengisian tandon-tandon milik para prajurit TNI dan POLRI yang bertugas memadamkam api di sekitar sana. Sungai kecil itulah tempat mereka mengambil air terdekat untuk memadamkan titik-titik api.

Lokasi kebakaran hutan tampak dekat

Begini ketika kabut sedang tebal-tebalnya di kota saya

      Bisakah kalian bayangkan, saat asap setebal itu bila, anak-anak kami bahkan kami sendiri yang dewasa banyak terkena ISPA, batuk pilek dan sesak nafas berkepanjangan. Apabila kami pun hanya bisa memakan sayur kentang wortel hanya mengandalkan kiriman dari jawa apa jadinya? Tentu kesehatan kami juga akan lama membaik. Karena kebutuhan gizi akan sayuran hijau pun sangat dibutuhkan.

     Mau beli sayur segar di supermarket ? Tentu tidak semua masyarakat mampu membelinya. Jadi melalui tulisan ini sebenarnya saya ingin mengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya kepada para petani dimanapun di lokasi kepungan asap yang tetap bertani meski di tengah kabut asap pekat, apalagi dengan lahan cocok tanam yang begitu dekat dengan titik-titik api. Sungguh, petani tulang punggung pangan dan gizi bangsaku.

     Apa kabar kesehatan kalian para petani, disaat banyak orang merasa beruntung bisa bekerja di dalam ruangan selama musim kabut asap. Dimana orang merasa sangat beruntung bisa bekerja di tempat ber-AC sejuk dan bersih. Kalian tetep memilih di lahan pertanian yang berdekatan asap.

   Ah... sayang saat asap begitu tebal kemarin saya tidak bisa mengabadikan foto kalian untuk di bagi ke khalayak umum. Agar semua masyarakat di daerah lain pun tau bagaimana perjuangan kalian juga dalam menyandang pangan negeri ini.

      Mudah-mudahan dengan sayur mayur yang kalian tanam, telah bantu menjaga kesehatan kami semua selema terkepung asap. Maka Allah pun berbaik hati memberikan kesehatan extra kepada kalian. 

        Sejak kabut asap mengepung kalimantan dan sumatra, saya yang berada di kalimantan juga melihat jelas, menurunnya produksi pangan terutama sayuran segar dari petani ke restoran-restoran yang memiliki lokasi di tengah alam dengan pemandangan alami. Karena orang-orang tentu tidak memilih makan di tengah kepungan asap. 

       Tetapi bersyukur petani-petani di kota saya tetap bercocok tanam dengan hasil panen yang tetap melimpah. Ya tentu saja, meski penduduk tidak ke restoran tentu mereka justru banyak masak sayur di rumah untuk menyandang gizi dan kesehatan. Karena itu kebutuhan akan sayur mayur tidak pernah berkurang. Dan tidak ada hasil panen yang terbuang sia-sia karena tidak laku.

   Sudah sepantasnya memang di hari Pangan sedunia pemerintah begitu memberikan perhatian kepada kalian. Pemerintah memberikan penghargaan kepada petani terbaik, pemberian bantuan peralatan cocok tanam beserta bibit dan bentuk perhatian lainnya. Karena Petani hidup mati bangsaku sebagai negara agraris.

   Tahun ini mungkin saja penghargaan petani teladan bukan milik kalian. Tapi mudah-mudahan tahun depan kalian lah yang berhak menyandang petani teladan sebagai petani yang gigih berjuang di tengah kepulan asap pembakaran lahan orang-orang tidak bertanggung jawab di tanah kalimantan dan sumatra.

 Kami tau kalian memang tidak mengharapkan penghargaan. Bercocok tanam semata-mata hanya sebagai mata penceharian kalian. Mungkin kalian hanya berharap hasil panen dibeli dengan harga yang pantas. Itulah bentuk kerendahan hati petani Indonesia pada umumnya.

   Tapi kami sebagai masyarakat yang sangat berterimakasih kepada kalian sangat mendukung dan merasa tersanjung bila kelak kalian diberikan penghargaan karena mempertaruhkan kesehatan kalian yang amat berharga demi tetap menopang supply sayur di kota penuh asap ini. 

Selamat hari pangan sedunia untuk seluruh petani di negeri agraris tercinta ini. Petani pejuang pangan dan gizi bangsaku.
    

18 comments:

Gustyanita Pratiwi said...

Smoga swasembada pangan bisa tercapai y mb

Ruli Retno Mawarni said...

Wahhh iya tu harapan kit brtahun2 yg belum tercapai

Driani Sari said...

Sukses mba lombanya. Semoga swasembada pangan bukan sekadar mimpi tapi nyata seperi tahun2 lampau

Ruli Retno Mawarni said...

Iya mba... say no to import... ;)

Mediatani com said...

Artikel Hari Pangan Sedunia ini sangat menarik. membawa pembaca mudah memahami apa makna HPS sebenarnya.

Lusi said...

Semoga petani tetap gigih ditengah kabut asap

damarojat said...

luar biasa. sambil memenuhi gizi juga sambil memberantas asap ya mak. eh tapi tanaman sayur itu bisa membantu mengurai asap ga ya? kl bisa berarti petaninya hebat, tanamannya juga ga kalah hebatnya.

Lidya Fitrian said...

Di BEkasi nih kayanya harus dihijaukan juga jarang lihat sawah

Kania Ningsih said...

asap juga mencemari tanaman dan air ya mba...:(

Nunu Halimi said...

good post mam Ruli semoga menang yaa,kasihan para petani kena dampak asap..semoga pemerintah bisa bener-bener tegas menanggulangi asap,..gregetan..

Rani Novariany said...

hiks, luar biasaaa yah para petani ini, dalam kondisi kabut asap kaya gitu masih ke ladang..
Semoga mereka selalu diberi kesehatan, aamiin

Ruli Retno Mawarni said...

Terimakasih :)

Ruli Retno Mawarni said...

Iya mba.. aamiin.. kmrn baru liat tulisan mba lusi topiknya jg ttg kebakaran hutan ya.. mudah2an ya mba dgn tulisan2 kita ini semakin terbuka hati org2 utk bantu menghentikan asap

Ruli Retno Mawarni said...

Nah itu sy belom dpt referensi nya tuh mba yg soal mengurai asap. Setau saya kalo tanaman di malam hr mengeluarkan karbondioksida. Jd kalo ketambahan asap mgkn nambah2 jg

Ruli Retno Mawarni said...

Iya ya.. harusnya tiap kota pny lahan kebun dan sawah.. buat keseimbangan alam ya

Ruli Retno Mawarni said...

Iya mba kania.. krn asapnya asap bakaran. Ga sehat bgt

Ruli Retno Mawarni said...

Hehehe makasih mom nunu sdh mampir.. geregetan bgt mom.. skrg uda ga bs berharap siapa2 lg selain ke Tuhan.. mudah2an ada efek jera sih spy thn dpn gak terulang lg

Ruli Retno Mawarni said...

Itulah mba rany.. petani2 ini layak bgt di beri penghargaan dan hadiah2 bibit unggul ataupun peralatan pertanian. Jasa mereka itu ga terhitung