Monday, 31 August 2015

Resensi buku "Akik dan Penghimpun Senja"



   
   Judul      : AKIK DAN PENGHIMPUN SENJA
   penulis  : Afifah Afra
   ISBN       : 978-602-1614-63-1
   penerbit         : INDIVA mediakreasi
   ketebalan       : 322 halaman
   ukuran            : 19 cm
   harga buku    : Rp. 40.000


Sejak purba, senja mati di usia muda
Aku hanya mampu menggunting senja
Menyimpannya di sudut hati


       Meski peradaban telah berjalan lebih dari 2000 tahun. Ada 2 jenis kepercayaan manusia masih saja banyak penganutnya.  

   Manusia yang mengaku memiliki agama tetapi masih mengagungkan sesuatu melebihi Tuhan. Menganggap benda-benda memiliki tuah, kehebatan, dan kemampuan melebihi Tuhan. Bukan, bukan orang-orang kampung yang belum tersentuh agama saja. Bahkan sampai pejabat dan orang-orang yang terpandang rela melakukan banyak hal aneh demi sebuah tuah hingga merogoh kocek dalam hingga tumbal. 

   Manusia kedua, yang mengaku memiliki agama di KTPnya tetapi seperti tidak mengakui adanya Tuhan, tidak pernah beribadah, tidak tau cara beribadah, seolah-olah tidak butuh Tuhan dan tidak meyakini kekuatan Tuhan. Meskipun setiap hari besar keagamaan ia selalu merayakan dengan suka cita tetapi dengan hati yang hampa tanpa makna.

 Sebuah novel semi sastra yang memadukan sastra, budaya, religi, pariwisata, iptek dengan Kehidupan remaja modern saat ini. Mempertemukan 2 golongan manusia seperti yang saya ungkapkan di atas. Menemukan gesekan - gesekan hidup diantara keduanya dengan kehidupan manusia beragama dan berkeyakinan yang sesungguhnya terhadap Tuhan. 

    Ada 4 tokoh utama dalam cerita ini.

1. Tokoh utama, anton, mahasiswa ganteng kaya raya, cuek, yang meski memiliki IPK selalu minim namun memiliki pengalaman terbaik soal caving. Orang yang merasa memiliki Tuhan tapi tidak tau cara berkomunikasi dengan Tuhan. 

2. Tokoh berikutnya fahira mewakili mahasiswa paling cerdas di kampus, cantik, solehah, dan tangguh. 

3. Tokoh ketiga bernama rinanti, bunga desa, lugu dan santun, sang penghimpun senja nan setia. Meyakini semua kekuatan Tuhan dan hidupnya lurus.

4. Tokoh terakhir adalah Gunadi. Seorang penganut aliran Dinamisme yang mewakili orang-orang yang masih sangat percaya kekuatan yang lebih hebat daripada kekuatan Tuhan.


  Buku setebal 322 halaman ini membuat kita serasa menyelami lebih dalam bagaimana kehidupan Mapala atau mahasiswa pecinta alam yang seringkali kita anggap terlalu lebay mencintai alam. Padahal sebenarnya, kita butuh mereka. Yang sangat tau bagaimana memperlakukan alam dan menjaga keseimbangannya.

Maukah kalian menggunting senja dan membawakannya sepotong untuk orang yang kalian cintai


  Sekelompok mahasiswa yaitu Fahira yang berkolaborasi dengan beberapa anak Mapala melakukan expedisi pada sebuah gua vertikal yang masih tertutup bagi umum untuk riset Biologi yang sangat diminati oleh orang-orang jenius.    Sementara ada pihak lain yang tidak mau gua perawan itu terusik. Ada ketegangan hingga kejahatan terjadi dalam gua ini hingga berjalan seperti kisah horor ilmiah.  
  Ada cinta yang tertempa keras mengiring kisahnya dari tukang kebun hingga dukun sakti. Termasuk 2 tokoh utama wanita disini yang membuat penasaran akan bersama siapa endingnya.         
   Kisah ini bisa jadi memang fiktif tapi dalam kenyataannya banyak yang mengalaminya. Dari seorang anak broken home hingga fenomena batu akik yang memang ternyata berhasil mengubah kehidupan banyak orang terutama di Pacitan yang jadi setting.         
  Sebagai ciri dari penulis, mbak Afifah tidak lupa menyelipkan unsur misteri dan kejahatan dalam novelnya. Sastra yang tetap kental dan pengetahuan yang mendalam tentang batuan dan Caving. Juga bagaimana unsur dinamisme yang jadi rahasia umum dibeber nyata.    
   Dengan bahasa yang sangat mudah di cerna, meski untuk orang tidak mengerti batu dan gua sekalipun novel ini justru menambah pengetahuan akan jenis-jenis batu terutama akik dan wisata-wisata gua. Semua obrolannya santun meski dalam adegan marah sekalipun.    
   Tetapi, dalam segi bahasa juga kita menemukan kerancuan dimana anak jakarta justru berbicara dengan "aku kamu" sementara setting di jawa dengan yang asli orang jawa justru terlihat janggal menggunakan "elo gue" bahkan kadang terselip engkau dan saya yang semua bercampur. Aneh, tapi tidak sampai mengalihkan perhatian kita dari inti cerita. 
 Beberapa bagian novel ini terasa mengharukan terutama pada bagian-bagian tokoh utama kehilangan orang yang di cintainya. Gambaran cerita terasa nyata dan mengusik perasaan pembaca.
   Penulis menggiring pola pikir kita dengan santai dan lembut agar orang-orang bisa meyakini Tuhan dengan logis, mengharap semua hanya kepada Tuhan. Meyakini bahwa cinta dan kesuksesan hanya bisa di raih dengan usaha dan doa. Bukan dengan barang bertuah ataupun dengan tanpa Nya.
   
       Di sisi lain ada sedikit rasa takut terselip di benak saya, novel ini menceritakan keindahan gua-gua yang masih alami dan berbagai keindahan yang luar biasa di pacitan. Bagaimana jika setelah novel ini, banyak orang mengunjungi pacitan, mengorek-ngorek semuanya. Dan bisa jadi keindahannya akan terusik. 
   Seperti saat Andrea hirata menulis indahnya bangka belitung dan di film-kan dengan nyata  bukti Indahnya di Laskar Pelangi. Seperti saat film the beach memperlihatkan indahnya pantai tersembunyi di thailand. Yang ternyata sekarang semuanya jadi tidak seindah dulu lagi karena terlalu banyak di jamah. Mudah-mudahan tidak terjadi.

"Take nothing but picture, leave nothing but footprint, kill nothing but time." 
Senja ke-4823
  Secara keseluruhan, novel ini sangat bermanfaat membuka wawasan tentang banyak hal dalam kehidupan, banyak terjadi namun jarang di bahas. Juga mempelajari lebih dalam tentang bidang dan kegiatan yang jarang di pilih remaja saat ini. Bahkan di luar negeri kegiatan ini hanya di lakukan oleh kalangan "the have". 

  Anda akan merasakan anda jadi lebih pintar tentang pengetahuan alam ketika anda selesai membacanya. Recomended dan layak di berikan 4 bintang.  :)

"Satu persatu orang yang kusayangi di rengut dengan kejam oleh kematian. Kau.. kau yang terakhir. Aku tak rela.."
Acintyacunyata



3 comments:

Akhmad Muhaimin Azzet said...

Meski tidak masuk dalam mapala, saya termasuk suka banget dengan jalan-jalan di alam terbuka. Maka, hmm... jadi kepengin banget baca buku ini secara langsung :)

Ruli Retno Mawarni said...

Monggo pak.. wah seneng bgt di mampirin blog saya.. mudah2an nanti pas baca menemukan hal2 yg menyenangkan buat bapak. InsyaAllah :)

Arinta Setia Sari said...

Karya Afifah Afra ya? Kayaknya keren nih...