Thursday, 20 August 2015

Kemerdekaan, bukan hanya kisah veteran

    Banjarbaru, 17 agustus 2015. Di sebuah sudut sempit lorong panti jompo. Ia meneteskan air mata. Mengenang kala itu ia menjadi saksi sejarah dan bagaimana hari kemerdekaan.
    Wanita tua yang sangat renta, berusia 105 tahun. Bernama Mbah Sukemi. Yang kini tinggal di panti sosial tresna werdha budi sejahtera, martapura. Saksi sejarah meski bukan veteran.
    Pagi ini kabut agak tebal ketika kami akan berangkat menuju ke panti sosial tresna werdha budi sejahtera atau lebih di kenal masyarakat dengan panti jompo. Beberapa lapangan kami lalui sudah terlihat upacara akan di mulai. Saya dan keluarga sudah setengah jalan mencapai panti jompo. Tidak lupa kami menggunakan dresscode merah putih hari ini.

   Antimainstream, hari ini saya dan teman-teman mengunjungi panti jompo ini. Karena disini kami belum menemukan komunitas veteran. Menurut kami.. para jompo ini pastilah tau tentang 17an atau setidaknya hari kemerdekaan. Pasti mereka punya cerita. Sambil mengunjungi, silaturahmi, berbagi cerita dan mengorek cerita. Pasti mereka akan senang kalo tau ini 17an begitu pikir saya dan teman-teman.
Oleh-oleh buat para kakek nenek sarapan
 
     Nenek pertama yang kami temui yang paling interaktif dalam berkomunikasi, paling segar bugar, murah senyum. Tapi beliau duduk sendirian di depan wisma matahari, karena tidak semua sehat bugar seperti beliau.
   Niat hati.. sambil bagikan bubur, sambil kami tanya, inget gak kalo hari ini adalah 17 agustus. Inget gak kalo hari ini hari kemerdekaan. Inget ga dulu biasanya 17an ngapain aja. Inget ga gimana dulu pak karno waktu hari merdeka menggema ke seluruh penjuru nusantara. Tapi kenyataannya ?

    Nenek ini melakukan semuanya di tempat tidur, pakai diapers tapi masih pesing, tempat tidur tidak layak, semua jadi 1 di tempat tidur ada obat, biskuit, peralatan mandi, tempat sampah sampai ke piring. dan dalam 1 kamar ada 4 orang yang kurang lebih sama kurang layaknya. Seperti wanita pada umumnya ada yang pembersih ada yang jorok, ada yang sehat bugar ada yang sakit. Kalau pas ketemu yang bugar dan pembersih biasanya kasurnya juga bersih. 
    Ini baru di wisma yang perempuan, belum lagi wisma laki-laki. Ada yang jauh lebih jorok lagi. Bau pesing menyengat, ada yang kasurnya jamuran. Kata penjaga panti hari ini petugas kebersihan libur. Libur sejak minggu karena senin juga libur 17 agustus jadi hari ini uda 2 hari tidak di bersihkan ya kotor dimana. Bila kakeknya bugar ya ada juga tempat tidurnya yang bersih rapi jali sprei kencang. Keren ya.. :)
    Saya sempet tidak tahan berkaca-kaca ketika seorang kakek yang kebetulan teman sekamarnya yang masih sehat bilang agar kami membangunkan beliau untuk makan bubur. Beliau bangun dan menerima. Berhubung beliau sudah tidak baik dalam mendengar maka kami bicara harus dengan sedikit teriak. Beliau bilang sejak setelah solat subuh sakit perut, yeah.. kakek ini masih rajin solat dan ontime pemirsa.. salut !!
    Saya mengulang 2x ketika bertanya apa kai sudah minum obat, kai adalah sebutan kakek di kalimantan selatan. Kata beliau, gak punya obatnya. Saat itu saya dan teman-teman tidak ada yang bawa obat maag. Ternyata beliau sakit perut karena lapar.  saya mau teriak, kemana anak-anak cucu beliau.. saya benar-benar teriris rasa sebagai anak melihat orang tua begini. 
    Rasanya saya sudah lupa kalau niat utama saya kesana ingin minta cerita soal 17 agustus sedangkan mereka-mereka ini saya rasa tidak merasakan makna merdeka. Apa yang mau saya tanya. 
    Di samping dapur umum ada tanah kuburan yang lumayan luas. Banyak nisan disana. Nisan sederhana dari kayu yang namanya di tulis seadanya. Sejenak saya terdiam. Melupakan para orang tua ini saja mereka tega, apa mereka akan datang mengunjungi nisan itu. Ah.. ya sudahlah..
 
Nenek ini sudah tidak bisa melihat. Tapi nenek bilang masih bisa makan sendiri. Allahuakbar.. merdeka !!

Sudah dulu ya melow ceritanya.. kita sekarang cerita 17 agustus yang bahagia juga ya.. di mulai dengan foto narsis kami yang kesana kemarin :) 

Bisa kan ya membedakan kami dan para nenek ;) im happy to be here..

Setelah hampir semua bubur terbagi. Kami menuju ke wisma terakhir. Di sudut tertutup pohon. Ketika datang kami di sambut seorang nenek dengan baju daster yang berjalan santai tegak dan sehat.
    Wisma kedua (selain wisma utama dimana pengasuh tinggal) yang kami bisa melepas sepatu karena wisma ini bersih. Bau pesing pun tidak ada. Kata pengasuh nenek tadi (yang menyambut kami) yang rajin membersihkan wisma dan menolong nenek-nenek lain disitu untuk bersih-bersih. Saya cuma bertanya, nenek kuat dan rajin begini masih tega juga anak cucunya menelantarkan atau sengaja menaroh di panti jompo? Ah..lagi lagi ya sudahlah..
    Suasana di wisma ini lebih hangat, kekeluargaannya terasa. Masing-masing masih bisa berkomunikasi walaupun tidak luput juga dari kekurangan fungsi panca indranya.
   Dan... ini dia bintang utama kita, mbah sukemi berusia 105 tahun menurut catatan admin pengurus. Namun menurut pengakuan beliau usianya 127 tahun.
    Nah yang di samping mbah sukemi, berambut pendek, beliau yang saya kisahkan tadi rajin sekali merawat teman-temannya dan membersihkan wisma. Mendampingi kami berbincang dengan mbah sukemi.
Saya : mbah tau hari ini 17-an mbah?
Mbah: wahh...ya tau lah.. hormat grakk (beliau bergaya ala tentara sigap) 
Saya dan teman-teman langsung penasaran tanya lebih jauh
Saya : mbah aslinya mana
Mbah : mbah orang jombang, suami orang kediri, orang tua orang xxxx mertua dari xxx ( saya yang lupa karena banyak kota beliau sebut dan clear ingatan beliau jelas)
Saya : mbah siapa presiden pertama kita?
Mbah : bapak sukarno (dengan lantang) waktu proklamasi mbah tau, jaman belanda jaman jepang jaman PKI mbah tau semua.
    Dengan usia lebih dari 100 tahun pastilah saat kemerdekaan beliau sudah berusia 30-an saat itu. Wajar kalau tau jelas peristiwanya.
Saya : kalau wakil presiden mbah ingat?
Mbah: aduh bapak siapa itu ya namanya, (beliau agak lama berpikir lalu saya bantu)
Saya : bung hatta ya mbah
Mbah: nahhh.. iya bapak muhammad hatta yang pakai kacamata itu (kami semua kagum akan ingatan beliau)
Saya: mbah dulu suaminya pejuang ya?
Mbah: engga, suami mbah cuma tukang becak, tapi kami mengalami semua kekejaman penjajah itu. Mbah dulu dari muda sampai tua kerja sama belanda sampai belandanya pergi
Saya: mbah masih bisa bahasa belanda
Mbah: masih

    Lalu mbah mengucapkan beberapa kata dalam bahasa belanda yang tidak bisa saya tuliskan disini karena saya tidak tau tulisannya bagaimana. Kata beliau itu kata-kata kalau di panggil atau disuruh sama juragan yang orang belanda.

Saya : mbah di banjar ini aslinya mana
Mbah: rumah mbah dulu di teluk tiram, suami meninggal, orang tua meninggal, mertua meninggal, mbah sendirian disini.

   Tanpa mau membahas lebih lanjut dimana anak beliau atau saudara lain, saya memilih bertanya tentang sejarah lagi.

Saya : mbah waktu itu kalau perang gimana
Mbah: wah itu kami sembunyi dimana-mana, ada bom tembakan clurit.
Saya : waktu jaman PKI mbah dimana
Mbah: waktu PKI itu mbah masih di jawa, Ya Allah... kejamnya itu PKI ya.
    Lalu mbah terdiam, menangis, kami pun diam membiarkan mbah larut dalam ingatan beliau. Saya menyeka air mata beliau.

Saya: memangnya mbah tau kejadiannya?
Mbah: engga, waktu itu mbah liat di bioskop di jawa. Jahatnya mereka ya udah gitu di masuki  lubang lagi. Lubang apa itu..
Saya: lubang buaya ya mbah
Mbah : nah... itu.

   Saya pun dulu waktu kecil sering nonton film G30S PKI tapi di tv saja. Bukan di bioskop. Entah sekarang mungkin tidak layak lagi di putar.

Saya : gimana mbah Indonesia sebelum merdeka dulu mbah
Mbah: kalau bukan bantuan amerika dan australia mungkin kita belum merdeka
Saya: biasanya mbah kalo 17 agustus ngapain mbah
Mbah : mbah gak ikut upacara tapi mbah ikut hormat.

   Saya dan teman-teman karena tidak banyak tau tentang sejarah saat itu, dan hari sudah mulai siang. Akhirnya memutuskan untuk datang lagi nanti. Mengulas cerita lagi. Dan mbah berpesan tolong jenguk mbah lagi nanti pas lebaran. Saya dan teman-teman pun janjian untuk datang lagi ketika lebaran idul adha untuk mbah sukemi. 
    Beliau, yang begitu mencintai Indonesia, yang setua itu tidak ingin melupakan sejarah. Padahal anak-anak muda sekarang banyak yang tidak tau bahkan tidak ingin tau sejarah negeri ini. Mungkin mbah sukemi mewakili perasaan rakyat jelata Indonesia saat itu, jadi tidak melulu dapat berita dari veteran ya. Mudah-mudahan jadi motivasi kita juga. Agar tidak malas-malasan mengibarkan bendera di depan rumah. Tidak menyepelekan makna kemerdekaan yang bagi mereka (masih) sangat menyenangkan di ingat.
 

Dirgahayu Republik Indonesia ke 70
Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.

    





6 comments:

Dwi Jatmiko Wati said...

Menunggu kisah selanjutnya mba hihihi I'm ready.... :D

Ruli Retno Mawarni said...

Aihhh...siap deh mba.. mudah2an lebaran nti bs kesana lagi kita ya

Prima Eko said...

Selamat mbak. . Tulisannya menang lomba blog dari Menkominfo. .

Pantesan menang. . Ceritanya keren. . Salut sama mbah sukemi. .

Cerita mbah sukemi bisa jadi inspirasi untuk adek adek atau kami kami sekarang. .

Izin share mbak. .

kalau sempat main2 ke http://blank-story.blogspot.co.id

Hehe

Ruli Retno Mawarni said...

Monggo di share mudah2an bermanfaat ya..
Oke2... siap ke tkp skrg :) makasih sdh berkunjung

Naqiyyah Syam said...

selamat mbk, kisahnya menarik sekali

Ruli Retno Mawarni said...

Terimakasih.. mudah2an bermanfaat. Makasih ya uda mampir :)