Sunday, 26 July 2015

ketika Pajak tidak menyenangkan di bicarakan, baca dulu ini

Ketika pajak tidak menyenangkan untuk di bicarakan. Ketika pajak di anggap mengganggu dan membuat tidak nyaman. ketika pajak bikin malas untuk diketahui. Ketika pajak terasa memberatkan untuk di bayar. Atau pengusaha yang cuek dengan pajak tiba2 kaget melihat tagihannya. Lalu kita harus bagaimana? Pergi? Menghindar? emang bisa di hindari? 
    Berlawanan dengan kondisi di atas, justru banyak orang yang ingin belajar pajak, karena di anggap sebagai profesi bagus dan keren. Bagaimana tidak. Dengan kondisi seperti di atas kan untuk bisa menjadi ahli pajak sangatlah keren karena butuh keseriusan tinggi, dan ketekunan maksimal ;) Lihatlah sebuah sekolah akutansi negara ternama, pendaftarnya tidak pernah kurang dari jumlah ribuan setiap tahun. Oke baik, jadi bagaimana menghadapi situasi pajak yang tidak menyenangkan seperti di atas tadi.
    Mari kita kenalan dulu dengan seorang CEO Artharaya consultant yaitu ibu Zeti Arina yang menggeluti profesi sebagai konsultan pajak. Bagi masyarakat awam, mengerti tentang pajak saja itu lumayan membuat berpikir apalagi menjadi konsultan. Nah ibu Zeti ini sekarang selain konsultan juga merangkap sebagai ketua ikatan konsultan pajak Indonesia (IKPI) Surabaya. Wadah berkumpul bagi semua konsultan-konsultan pajak di Surabaya.
foto : poltek.ubaya.ac.id

     Mari kita tanya-tanya beliau tentang pajak yang kita kebanyakan menganggap tidak menyenangkan ya dan bertanya-tanya konsultan pajak itu kerjanya ngapain. Berikut hasil kutipan wawancaranya.

T :  Selama ini, tantangan dan solusinya apa saja dalam memberi edukasi pajak?
J : Berbeda dengan profesi dokter yang sangat dicari oleh masyarakat, profesi konsultan pajak banyak yang tidak dikenal dan tidak dimengerti apa tugasnya, bahkan langsung ditolak kalau ngomongin pajak karena dianggap topik yang tidak menarik dan menakutkan. Padahal sejujurnya saya justru ngeri apabila ada seorang wirausaha pemula, pedagang on line yang mulai suskses, motivator terkenal, profesi yang sukses  tapi tidak mau tau dengan pajak, karena bisa saja langsung bangkrut bila diperiksa pajak. 
    Ibu Zeti menceritakan Juga. Ada true story yang bisa sebagai bahan pelajaran, ada seorang pegawai toko pakaian yang semula Cuma sebagai pesuruh , yang karena kegigihannya berhasil menjadi pengusaha garment terkenal dan mempunyai outlet di seluruh Indonesia, ternyata hasil penjualannya tidak dilaporkan semua, karena ada peningkatan harta yang hampir 12 milyar sedangkan penghasilannya Cuma dilaporkan 60 juta setahun tentu tidak cocok dibandingkan kenaikan jumlah hartanya. Akhirnya dihimbau oleh kantor pajak untuk melaporkan penghasilan yang sebenarnya dan membayar kekurangan pajaknya, bukannya membetulkan tetapi malah merasa kerja keras selama ini kok enak saja diminta oleh kantor pajak. Setelah diperiksa diminta data dan rekening tabunganpun menolak, akhirnya atas seijin menteri keungan rekening tabungannya dibuka dan setelah dihitung ternyata kurang bayar pajaknya hampir seratus milyar.  Ibaratnya dari nol menjadi nol kembali, miris bukan. Andai waktu itu dibayar pajaknya 3,6 milyar pasti tidak runyam seperti itu kejadiannya. Itu yang membuat beliau prihatin terutama para wirausaha pemula yang belum paham pajak. Sehinga beliau selalu bertekat dimana saja kapan saja untuk berjanji mengedukasi walau tidak disukai. 

Membaca true story ibu Zeti ini kita sebagai pengusaha, terutama yang pemula gak mau kan mengalami kejadian ini di kemudian hari. Mari kita baca lanjutan wawancara nya.

T : Menurut Ibu Zeti, mengapa masyarakat harus "melek" pajak?
J : Karena pembayaran pajak, wajib bagi siapa saja yang telah memperoleh penghasilan diatas penghasilan tidak kena pajak, kalau tidak mendaftarkan sebagai wajib pajak apalagi tidak membayar akan mengakibatkan denda yang bertubi-tubi.

Wiiii...serem juga ya..apalagi untuk yang baru mau mulai usaha. Kita semua pasti punya impian membuat usaha kita jadi besar kan. Mending belajar dari sekarang. Sebelum kita jadi sibuk lalu lupa sama pajak. ;) lanjut lagi ngobrolnya.

T : Sejauh mana peran konsultan pajak terhadap masyarakat?
J : Peran konsultan pajak sangat penting terutama untuk para wirausaha pemula, karena masih banyak yang belum melek pajak sehingga kalau salah melaporkan pajak bisa mengakibatkan denda dan sanksi. Masyakat awampun harus di edukasi bahwa semua fasilitas umum yang dinikmati didanai dari uang pajak.

T : Aktivitas apa saja yang bisa ditawarkan oleh konsultan pajak? (Misal, hanya perhitungan, atau sampai dibayarkan ke kantor pajak, dll)
J : Edukasi tentang bagaimana menghitung dengan benar dan hemat, membayar mulai kapan terakhir harus dibayar, pembayaran harus ke bank bukan ke kantor pajak, barulah dilaporkan ke kantor pajak dan tidak boleh terlambat.

Yayaya... ternyata profesi konsultan pajak tidak sepele. Makanya bagi sebagian orang bikin mumet yah..hehehe.. sekarang mumetnya mulai berkurang ya karena mulai tau tentang pajak. Next question..

T : Saat ini banyak konsultan pajak, nah, bagaimana Ibu Zeti mempertahankan kepercayaan sebagai konsultan yang dapat dipercaya?
J : Antara konsultan dan klien harus klik, tugas konsultan melindungi klien jangan sampai salah langkah, salah hitung dan membayar pajak sehemat mungkin tanpa melanggar aturan dan menghindari sanksi. Tentu harus menjadi konsultan yang profesional selalu meningkatkan kemampuan dan yang terpenting mengerti keadaan masing masing klien dan membimbing dengan benar.

Bicara tentang membimbing dengan benar, kita seperti di ingatkan dengan kasus Gayus Tambunan ya. Yang mencoreng nama petugas-petugas kantor pajak. Nah.. jadi pilih konsultan pajak yang terpercaya dan handal ya. Yang membawa kita kepada pajak yang bener. Tidak di manfaatkan oleh oknum-oknum Yang bukannya membuat kita taat pajak malah ngajarin menyelewengkan pajak. kasi 2 jempol buat ibu Zeti Arina Yang concern penuh sebagai konsultan pajak berkualitas.

T : Sasarannya siapa saja dalam hal memberi edukasi pajak?
J : Sebagai konsultan pajak, klien saya kebanyakan perusahaan asing tetapi bentuk komitmen saya adalah memberi edukasi kepada masyarakat pembayar pajak, terutama pembayar pajak pemula atau yang belum tau tentang pajak, karena saya tahu benar konsekuesi bila seseorang harusnya sudah membayar pajak tetapi tidak mau membayar.

T : Kegiatannya apa saja dalam hal memberi edukasi pajak? (Misal, bikin seminar gratis, dll)
J : Kegiatan apapun saya gunakan sarana untuk mengedukasi masyarakat untuk sadar pajak, mulai dari menulis artikel, menulis buku, memberi seminar, mengajar, talk show di radio, TV, melalui media masa,melalui sosial media, sampai sampai misalnya kumpulan pertemuan rotary club, lions club, asosiasi, atau siapa saja yang ingin tau tentang pajak saya akan dengan sukarela saya jelaskan dengan senang hati. Terus kalau ada yang tanya dari mana dapat duitnya kalau Cuma mengedukasi gratis. Tenang saja justru spesialisasi saya di perusahaan asing dan group perusahaan besar saya anggap edukasi masyarakat pembayar pajak ini sebagai bentuk pengabdian yang selalu saya utamakan.

Nah.. sudah mulai tau ya soal pajak. Jadi masihkah kita malas membicarakannya? Masihkah kita enggan membayar pajak? Masihkah kita pura-pura ga tau caranya bayar pajak sampe tau-tau tabungan kita di cek. apa kata dunia ? ;)




5 comments:

Hadi Prayitno said...

Saya sebenernya paling anti dengan yang namanya pajak. Soalnya dampak yang dirasakan selama ini hanya perbaikan jalan saja. Itu pun dimanfaatkan dengan para kontraktor yang ingin mendapatkan tender. Contoh nyata seperti seminar nggak pernah kami rasakan. Media pun nggak pernah meliput kegiatan tersebut.

Salam dari Admin Super Responsive

Ruli Retno Mawarni said...

Hihihi pak hadi sm persis kaya sy.. anti dgn pajak. Tp apa mau di kata kita tgl di negara yg hrs taat pajak.. mau ga mau hrs ngerti pajak ya minimal buat pribadi ya pak.. biar bs ngajarin anak jg.. mudah2an tulisan ini manfaat ya

Ruli Retno Mawarni said...

Hihihi pak hadi sm persis kaya sy.. anti dgn pajak. Tp apa mau di kata kita tgl di negara yg hrs taat pajak.. mau ga mau hrs ngerti pajak ya minimal buat pribadi ya pak.. biar bs ngajarin anak jg.. mudah2an tulisan ini manfaat ya

Heru S. said...

Memang tidak sedikit yang sudah pobia dengan kata pajak mbak. Hehe... salam kenal, mbak...

Heru S.

Heru S. said...

Memang tidak sedikit yang sudah pobia dengan kata pajak mbak. Hehe... salam kenal, mbak...

Heru S.